1. Tujuan Percobaan
– Untuk mengetahui nilai 𝑟(1⁄𝑡) dengan konsentrasi Na2S2O3 0,5 M dan konsentrasi HCl 0,5 M pada percobaan laju reaksi
– Untuk mengetahui nilai 𝑟(1⁄𝑡) dengan konsentrasi Na2S2O3 0,2 M dan konsentrasi HCl 1 M dengan pengaruh konsentrasi pada percobaan laju reaksi
– Untuk mengetahui nilai 𝑟(1⁄𝑡) dengan konsentrasi Na2S2O3 0,1 M dan konsentrasi HCl 0,5 M dengan pengaruh suhu pada percobaan laju reaksi
2. Landasan Teori
Laju reaksi dapat dilihat berdasarkan adanya pembahan pada konsentrasi reaktan pembahan pada reaktan dalam suatu waktu. Laju reaksi bersifat tidak tetap, melainkan selalu berubah sesuai dengan perubahan konsentrasi. Setiap reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan berbeda - beda. Tentunya agar bisa mengetahui waktu reaksi maka perlu mengkaji faktor - faktor apa saja yang dapat memperlambat dan mempercepat prosesnya. Faktor - faktor yang memenuhi laju reaksi yaitu konsentrasi yang merupakan jumlah zat terlarut yang terdapat di dalam suatu larutan. Apabila jumlahnya semakin banyak maka konsentrasi semakin kecil. Di dalam larutan memiliki konsentrasi tinggi terdapat lebih banyak larutan partikel dibandingkan larutan berkonsentrasi rendah. Partikel - partikel tersebut memiliki susunan yang lebih rapat, kemudian luas permukaan yang memiliki pengaruh besar terhadap laju reaksi. Apabila permukaannya semakin luas, akan mempercepat laju reaksi. Namun jika luas bidang sentuhnya semakin kecil maka laju reaksi semakin lambat karena tumbukan partikel - partikelnya kecil. Selanjutnya suhu, katalis yang mempercepat jalannya reaksi tanpa mengalami perubahan kimia secara permanen (Adiguna, 2018).
Dalam kehidupan sehari - hari, sering kita menjumpai reaksi kimia yang berlangsung sangat cepat seperti raksi kimia yang berlangsung sangat cepat seperti reaksi logam natrium dengan air, permukaan pita magnesium reaksi pengendapan agel dan raksi pembakaran metana. Sedang contoh yang lambat yaitu reaksi perkaratan besi dari contoh - contoh itu dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan sehari - hari ada reaksi kimia yang berlangsung sangat cepat adapula yang berlangsung dengan lambat. Kecepatan proses reaksi kimia yang berlangsung inilah yang kemudian dinamakan laju reaksi kimia. Pengetahuan tentang laju reaksi sangatlah bermanfaat dalam kehidupan sehari - hari dan kegiatan industri yang menggunakan berbagai reaksi kimia dalam proses produksinya, karena waktu dan tenaga biaya sangatlah berarti dalam proses industri memungkinkan kita mendapatkan produk yang berkualitas dan ekonomis, oleh karena itu dalam pembahasan laju reaksi perlu dipelajari faktor - faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan teori tumbukan yang menjelaskan bagaimana faktor - faktor tersebut memengaruhinya (Sucipto, 2019).
Laju atau kecepatan reaksi adalah produk reaksi yang dihasilkan dalam suatu reaksi persatuan reaktan. Jumlah zat yang berubah yang dinyatakan dalam satuan volume total campuran. Oleh sebab itu, laju kecepatan reaksi didefinisikan sebagai pertambahan konsentrasi molar produk reaksi persatuan waktu atau pengurangan konsentrasi molar pereaksi persatuan waktu satuannya adalah mL per liter per detik atau mol L1 S1 (Sastrohamidjojo, 2018)
Kinetika kimia adalah suatu ilmu yang membahas tentang laju (kecepatan) dan mekanisme reaksi. Tujuan utama mempelajari kinetika kimia adalah memahami tahap - tahap reaksi yang terjadi dan untuk mempercepat produksi diperlukan pengetahuan tentang kondisi yang dapat membantu reaksi agar berlangsung pada rentang waktu yang menguntungkan secara komersial (Sastrohamidjojo, 2018).
Laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi dimana satu atau dua pangkat adalah pangkat 2, dan diberikan sesuai dengan jumlah pangkat. Jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pangkat tiga, reaksi dikatakan dalam tiga tahap. Biasanya, laju reaksi tidak bergantung pada orde reaksi, dan reaksi yang merupakan proses satu langkah ditentukan berdasarkan reaksi yang merupakan reaksi dasar (Sastrohamidjojo, 2018).
Orde reaksi adalah nilai numerik yang menunjukkan besarnya pengaruh konsentrasi reaktan terhadap laju reaksi, laju reaksi (umumnya) bilangan bulat, tetapi bisa juga dalam bentuk pecahan atau bilangan negatif. Orde ini tidak bergantung pada koefisien stoikiometri reaktan, tetapi pada nilai yang diuji. Ada beberapa jenis orde reaksi, yaitu orde reaksi nol, orde reaksi satu dan orde reaksi dua (Haryono, 2017).
Reaksi orde satu adalah bilamana laju reaksi bergantung pada konsentrasi reaktan tunggal pangkat satu. Bentuk hukum laju disebut hukum laju terintegrasi. Dapat digunakan untuk bermacam unit satuan konsentrasi, selama unit satuan konsentrasi [A]+ dan [A]0 sama (Mon, 2012). Proses reaksi kimia merupakan suatu proses yang selalu menghasilkan perubahan senyawa kimia. Senyawa - senyawa awal yang terlibat dalam reaksi kimia disebut sebagai reaktan. Dalam proses reaksi kimia akan menghasilkan satu atau lebih produk atau hasil reaksi yang biasanya memiliki ciri - ciri yang berbeda dengan reaktan. Seberapa cepat suatu reaksi kimia dapat terjadi dalam salah satu cabang ilmu kimia yang disebut dengan kinetika kimia. Para ilmuwan telah mempelajari berbagai jenis reaksi kimia, dimana reaksi kimia ada yang berlangsung sangat cepat sehingga membutuhkan waktu yang sangat singkat, dan juga terdapat reaksi yang berlangsung dalam waktu yang lama (reaksi berlangsung lambat). Besaran laju reaksi merupakan ukuran cepat lambatnya suatu reaksi kimia dan perubahan konsentrasi reaktan atau produk persatuan waktu merupakan definisi dari laju reaksi (Wayan, 2017).
Kinetika reaksi mempelajari laju reaksi kimia secara kuantitatif dan mempelajari faktor - faktor yang mempengaruhi laju reaksi tersebut. Laju reaksi kimia adalah jumlah mol reaktan persatuan volume yang bereaksi dalam satuan waktu tertentu. Bila dibuat kurva penurunan konsentrasi sebagai fungsi waktu, maka akan diperoleh kurva bahwa slope kurvanya pada setiap titik selalu negatif karena konsentrasi reaktan selalu menurun. Jadi, laju reaksi pada titik sepanjang kurva − 𝑑𝑐⁄𝑑𝑡, tetapi apabila laju reaksi dituliskan sebagai laju pembentukan produk, maka laju reaksi akan menjadi bernilai positif. Jika konsentrasi produk setelah reaksi berlangsung t detik adalah x mol dm3, maka laju reaksinya t 𝑑𝑥⁄𝑑𝑡. Pengukuran kinetika reaksi pertama kali dilakukan oleh Wichelny yang menyimpulkan bahwa laju reaksi pada setiap waktu sebanding atau berbanding lurus dengan konsentrasi (c) yang tersisa pada setiap waktu, secara matematik dapat dituliskan − 𝑑𝑐⁄𝑑𝑡 = 𝐾. 𝐶 dan 𝑑𝑐⁄𝑑𝑡= sering kali disebut sebagai differential rate expression dan K= konstanta laju reaksi.
Laju reaksi = 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖/𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛, atau laju reaksi = ± 𝐴𝑥/∆𝑡 (2.1)
(Prayitno, 2007).
Laju reaksi atau kecepatan reaksi menyatakan banyaknya reaksi kimia yang berlangsung persatuan waktu laju reaksi menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan tiap detik reaksi. Peralatan besi merupakan contoh reaksi kimia yang berlangsung lambat peledakan mesin atau kembang api adalah contoh reaksi yang tepat (Chang, 2005).
Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu dan konsentrasi apabila suhu pada suatu reaksi yang berlangsung dinaikkan, maka menyebabkan laju reaksi semakin besar. Sebaliknya, apabila suhu diturunkan maka partikel semakin tidak aktif, sehingga laju reaksi akan semakin kecil, karena persamaan laju reaksi didefinisikan dalam bentuk konsentrasi reaktan maka dengan naiknya konsentrasi maka naik pula kecepatan reaksinya, artinya semakin tinggi konsentrasi maka semakin banyak molekul reaktan yang tersedia dengan demikian kemungkinan bertumbukan atau semakin banyak juga, sehingga kecepatan reaksi akan meningkat jadi semakin tinggi konsentrasi, semakin cepat pula laju reaksinya (Sunarya, 2012).
Kecepatan laju reaksi yang berbanding lurus terhadap konsentrasi dengan satu atau dua pengikut berpangkat dua akan disebutkan sesuai jumlah pangkat, reaksi disebut berpangkat tiga bila kecepatan reaksinya berbanding lurus dengan konsentrasi pangkat tiga. Biasanya laju reaksi tidak bergantung pada orde reaksi, suatu reaksi yang merupakan proses suatu tahap didefinisikan dengan berdasarkan reaksinya yaitu reaksi dasar (Petrucci, 1982).
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat tersebut dalam tiap liter larutan normalitas menyatakan jumlah evakualen zat terlarut dalam tiap 1000 pelarut murni. Sedangkan fraksi mol menyatakan perbandingan mol salah satu komponen dengan jumlah mol semua komponen (Syukri, 1999).
Bidang kimia yang mengkaji kecepatan atau laju terjadinya reaksi kimia kemikal kinetik. Kata kinetik menyiratkan gerakan atau perubahan, energi kinetik didefinisikan sebagai energi yang tersedia karena gerakan suatu benda. Disini kinetik merujuk pada laju reaksi (reaction rate), yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (m/s), secara umum, setiap reaksi digambarkan dengan persamaan:
Reaktan→Produk (2.2)
Persamaan ini memberitahukan bahwa selama berlangsungnya reaksi, molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk. Sebagai hasilnya, untuk mengamati jalannya laju reaksi dengan cara memantau menurunnya konsentrasi reaktan atau meningkatnya konsentrasi produk. Menurunnya jumlah molekul reaktan dan meningkat jumlah molekul produk seiring berjalannya waktu, secara umum akan lebih mudah diamati apabila laju dinyatakan dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu. Kecepatan reaksi bergantung pada banyak faktor, perlambat reaksi tertentu. Banyak reaksi yang sangat peka terhadap suhu, sehingga pengendalian suhu sangat penting untuk pengukuran kuantitatif dalam kinetika kimia, bentuk fisik reaktan juga berperan penting dalam laju yang diamati (Oxtoby, 2001).
Laju reaksi menggambarkan seberapa cepat reaktan terpakai dan produk terbentuk. Seberapa cepat reaktan terpakai pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa macam perlakuan pada sistem atau lingkungan. Seperti halnya ketika suhu dinaikkan maka suhu energi kinetik partikel zat meningkat sehingga memungkinkan semakin banyaknya tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan akibatnya reaksi berlangsung lebih cepat dari suhu semula. Semakin banyak partikel zat, maka tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan akan semakin cepat terjadi, hal ini terjadi pada penambahan konsentrasi zat yang dapat mempercepat reaksi. Selain suhu dan konsentrasi luas permukaan zat atau bentuk fisik dari zat juga ikut mempengaruhi kecepatan reaksi zat. Semakin luas permukaan suatu zat atau semakin halus bentuk fisik dari suatu zat, semakin kecil ukuran zat, reaksi berlangsung semakin cepat karena hal tersebut (Purwanti, 2013).
Laju reaksi adalah peristiwa perubahan konsentrasi reaktan atau produk dalam satuan waktu. Laju reaksi juga dapat dinyatakan sebagai suatu laju terhadap berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi. Konstanta laju reaksi merupakan laju reaksi bila konsentrasi dari masing - masing jenis adalah satuan (Keenan, 1984).
Reaksi kimia adalah proses bertambahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Proses itu ada yang cepat dan ada yang lambat. Contohnya bensin terbakar lebih cepat dibandingkan minyak tanah. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat, seperti membakar dinamit yang menghasilkan ledakan, dan ada yang sangat lambat, seperti besi berkarat. Pembahasan tentang kecepatan (laju) reaksi yang disebut kinetika kimia. Dalam kinetika kimia ini dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan faktor - faktor yang mempengaruhinya (Syukri, 1999).
Tetapan laju reaksi disebut juga koefisien laju atau laju reaksi jenis, dengan lambang K (Konstanta). Tetapan laju adalah tetapan perbandingan antara laju reaksi dan hasil kali konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi. Tetapan laju juga merupakan perubahan konsentrasi pereaktan atau produk reaksi per satuan waktu dalam suatu reaksi jika konsentrasi semua pereaksi semua dengan satu (Haryono, 2017).
Laju (kecepatan) menunjukkan sesuatu yang terjadi persatuan waktu. Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi suhu, luas permukaan, dan juga katalis. Konsentrasi adalah banyaknya zat terlarut di dalam sejumlah pelarut. Semakin banyak zat terlarut, maka akan semakin besar pula konsentrasi larutan, suatu larutan dengan konsentrasi tinggi mengandung partikel lebih banyak, jika dibandingkan dengan konsentrasi yang lebih rendah. Pada konsentrasi tinggi memungkinkan tumbukan yang terjadi akan lebih banyak, sehingga membuka peluang semakin banyak tumbukan efektif yang menyebabkan laju reaksi menjadi lebih cepat. Akibatnya hasil reaksi akan lebih cepat terbentuk (Petrucci, 2011).
Kita telah mengetahui bahwa selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan bereaksi dengan dapat dinyatakan dengan persamaan umum reaktan → reaktan bereaksi dengan produk. Persamaan ini memberitahukan selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan akan bereaksi sedangkan molekul akan terbentuk (Chang, 2005).
Ada 4 faktor yang mempengaruhi laju reaksi, yaitu
– Konsentrasi, konsentrasi mempengaruhi laju reaksi, karena banyaknya partikel memungkinkan lebih banyak tumbukan dan itu membuka peluang semakin banyak tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan.
– Suhu, suhu laju reaksi suatu reaksi bertambah dengan naiknya temperatur. Dengan naiknya temperature, bukan hanya molekul - molekul lebih serig bertabrakan, tetapi mereka juga bertabrakan dengan dampak (benturan) yang lebih besar, karena mereka bergerak lebih cepat pada temperatur yang tinggikan, persentasi tabrakan yang mengakibatkan reaksi kimia akan lebih besar, karena makin banyak molekul yang memiliki kecepatan lebih besar dan karenanya memiliki energi cukup untuk bereaksi.
– Luas permukaan, pada zat padat yang bereaksi adalah atom-atom atau molekul-molekul yang terdapat pada bagian sebelah dalam tertutup dari luar sehingga tidak bisa bereaksi. Banyaknya “muka” yang berada dibagian sebelah luar disebut sebagai luas permukaan. Makin luas permukaan zat pereaksi, maka peluang untuk bereaksi akan maikn besar sehingga laju reaksinya juga akan semakin cepat.
– Katalis, katalis kadang ikut terikat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimia yang permanen. Dengan kata lain pada akhir reaksi, katalis akan dijumpai Kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
(Goktavian, 2014).
Laju reaksi mengukur seberapa cepat reaktan habis bereaksi atau seberapa cepat produk terbentuk laju dinyatakan sebagai perbandingan perubahan konsentrasi terhadap waktu pengukuran laju secara percobaan menghasilkan hukum laju untuk reaksi yang menyatakan laju dalam konstanta laju dan konsentrasi reaktan. Ketergantungan laju pada reaksi menghasilkan orde reaksi. Suatu reaksi dapat dikatakan berorde nol jika laju tidak bergantung pada konsentrasi menghasilkan orde reaksi. Orde yang lebih tinggi dan orde pecahan juga dikenal. Satu ciri penting dari laju reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk menurunkan suatu konsentrasi reaktan menjadi setengah dari konsentrasi awalnya disebut paruh waktu untuk reaksi orde pertama, waktu paruh tidak bergantung pada konsentrasi awal (Chang, 2005).
Bidang kimia yang mengkaji kecepatan atau laju terjadinya reaksi kimia dinamakan kinematika kimia (chemical kinetics). Kata kinetik menyiratkan gerakan atau perubahan, kinematika merujuk pada laju reaksi (reaction rate), yaitu perubahan reaksi, konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (m/s). Bergantung pada jenis reaksinya, terdapata sejumlah cara untuk mengukur laju reaksi, sebagai contoh dalam larutan berair, molekul bromin bereaksi dengan asam format (HCOOH). Salah satu cara untuk mengkaji pengaruh konsentrasi reaktan menyatakan bagaimana laju awal berkonsentrasi tergantung laju awal pada umumnya lebih disukai adalah mengukur laju awal karena sewaktu reaksi berlangsung, konsentrasinya reaktan menurun dan akan menjadi sulit untuk mengukur perubahannya secara akurat (Chang, 2005).
Pengurangan konsentrasi reaktan tiap satuan waktu disebut laju reaksi, laju reaksi penting untuk dipelajari untuk melihat seberapa cepat atau lambat suatu reaksi berjalan. Menurut teori tabrakan, suatu reaksi berlangsung jika partikel-partikelnya mengalami tabrakan efektif sehingga jumlah energinya dapat melampaui energi aktivitas. Laju reaksi dipengaruhi oleh faktor - faktor suhu, konsentrasi, ukuran partikel dan katalis. Umumnya reaksi berjalan lebih cepat jika suhu dinaikkan. Laju reaksi lebih besar jika konsentrasi awal pereaksi makin besar ukuran partikal pereaksi lebih kecil akan meningkatkan laju reaksi (Suryatno, 2003).
Laju reaksi dapat didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi per satuan waktu. Berkurangnya konsentrasi CO2 yang merupakan reaktan dari reaksi fotosintesis menjadi fokus tinjuan dalam penelitian. Dalam hal ini diambil CO2 sebagai basis penentuan laju reaksi. Untuk menetukan konstanta laju reaksi, dibutuhkan data-data penelitian yaitu waktu reaksi dan konsentrasi CO2 dalam reaktor. Konstanta laju reaksi sangat bergantung pada reaksi. Suhu mempengaruhi konstanta laju reaksi (k), dengan persamaan sebagai berikut:
KA (T) = A.e-E/RT (2.3)
Dimana,
A= Faktor tumbukan
E= Energi aktivasi (J/mol)
R= konstanta gas (8,314 J/mol.K) T= suhu reaksi (K)
Energi aktivasi adalah energi minimum yang harus dimiliki oleh suatu reaktan untuk dapat bereaksi
(Purba, 2012).
Cepat lambatnya suatu reaski berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi perekasi atau hasil hasil reaksi per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer (atm), milimeter merkurium (mmHg) atau Pascal (Pa). Satuan waktu dapat detik, menit, jam, bulan bahkan tahun bergantung pada reaksi itu berjalan cepat atau lambat.
𝑙𝑎𝑗𝑢 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑠𝑖 = 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖/𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 (2.4)
Oleh karena itu untuk mengukur laju reaksi. Perlu menganalisis secara langsung maupun tak langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa setelah penggal - penggal waktu tertentu. Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah konsentrasi. Jika konsentrasi suatu zat semakin besar, maka laju reaksinya semakin besar pula dan sebaliknya jika konsentrasi semakin kecil maka laju reaksinya semakin kecil pula. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau persamaan laju reaksi. Pangkat - pangkat dalam persamaan laju reaksi dinamakan orde reaksi dari perubahan kimia (Rusman, 2019).
Agar reaksi kimia terjadi, molekul reaktan harus datang bersama - sama sehingga atom mereka dapat ditukar atau disusun kembali. Atom dan molekul yang lebih dalam fase gas atau dalam larutan daripada di fase padat, sehingga reaksi yang sering dilakukan dalam campuran gas atau antara zat terlarut dalam suatu larutan. Untuk reaksi homogen, dimana reaktan dan produk semua berada dalam fase yang sama (misalnya gas atau larutan), empat faktor yang mempengaruhi laju reaksi yaitu:sifat reaktan dan produk-produk khususnya struktur molekul dan ikatan, konsentrasi reaktan, suhu dimana reaksi, dan adanya katalis. Banyak reaksi yang penting, termasuk menghilangkan polutan udara dari knalpot mobil, adalah reaksi heterogeny. Mereka mengambil tempat dipermukaan pada antarmuka antara dua fase yang berbeda (padat dan gas, misalnya). Kecepatan reaksi heterogeny tergantung pada empat faktor yang tercantum diatas serta pada daerah dan sifat permukaan dimana reaksi terjadi (Moore, 2008).
Katalis dibagi menjadi 2 yaitu, katalis positif (katalisator) yang berfungsi mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan energi negatif aktivasi dan membuat orientasi molekul sesuai untuk terjadinya tumbukan. Dan katalis negatif (inhibitor) yang memperlambat laju reaksi. Terdapat tiga jenis katalis yang umum, tergantung jenis zat yang menaikan lajunya: katalis, heterogeny, katalis homogen, dan katalis enzim (Syindjia, 2011).
Laju reaksi adalah besaran positif yang menyatakan perubahan konsentrasi reaktan atau produk persatuan waktu. Laju reaksi juga dapat dinyatakan dengan laju berkurangnya konsentrasi suatu reaktan atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Dengan kata lain laju reaksi dapat digambarkan dengan beberapa reaktan terpakai dan suatu produk terbentuk. Secara umum setiap reaksi dapat digambarkan dengan,
Reaktan → Produk (2.5)
Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa selama reaksi berlangsung, molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk (Nasution, 2014).
Laju reaksi dapat dipergunakan memprediksi kebutuhan bahan dengan produk reaksi tiap satuan waktu, dan dapat juga dipergunakan untuk menghitung kebutuhan energi untuk produksi hidrogen. Persamaan laju reaksi diperoleh melalui eksperimen dan tidak bisa hanya dilihat dari persamaan relasinya saja, dengan pengukuran jumah konsentasi tiap zat terhadap waktu persamaan laju reaksi dapat ditentukan. Laju suatu reaksi dapat terjadi karena adanya beberapa faktor, meningkatkan suhu pada sistem, luas permukaan atau bentuk padat zat, dan katalis yang dapat mempercepat laju reaksi (Anifah, 2014).
Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi (reaktan) atau konsentrasi hasil reaksi (produk) tiap satuan waktu. Tetapan laju reaksi adalah bilangan yang menyatakan perbandingan hasil kali konsentrasi berpangkat orde reaksi terhadap laju reaksi (Suardi, 2009).
Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkuranngnya konsentrasi suatu pereaksi ,atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk fase gas biasanya diganti satuan tekanan atmosfer, atau pascal sebagai ganti konsentrasi satuan waktu dapat detik, menit, jam, hari atau bahkan tahun tergantung apakah reaksi itu cepat atau lambat (Keenan, 1998). Penentuan harga K dengan cara integral lebuh banyak digunakan. Namun sedikitnya ada 3 hal yang biasa mengganggu. Pertama, terdapat sejumlah persamaan integral yang cukup rumit dan berbeda tergantung pada orde reaksi pada kedua arah. kedua, biasanya ditentukan hanyalah tetapan laju reaksi maju Kf. Ketiga, persamaan integral ini juga masih menggunakan konsentrasi kesetimbangan sehingga. Sekali lagi, praktis dan terkesan termodinamika untuk kinetika (Patiha, 2013).
Koefisien K disebut konstanta laju reaksi, yang tidak bergantung pada konsentrasi (tetapi bergantung pada temperatur). Untuk persamaan sejenis ini, yang ditentukan secara eksperimen, disebut hukum laju reaksi adalah persamaan yang menyatakan laju reaksi V sebagai fungsi dari konsentrasi semua spesies yang ada termasuk produknya (Atkins, 1996).
Kecepatan laju reaksi yang berbanding lurus terhadap konsentrasi dengan satu atau dua pengikut berpangkat dua akan disebutkan sesuai jumlah pangkat. Reaksi disebut berpangkat tiga bila kecepatan reaksinya berbanding lurus dengan konsentrasi pangkat tiga. Biasanya laju reaksi tidak bergantung pada orde reaksi, suatu reaksi yang merupakan proses satu tahap didefinisikan dengan berdasarakan reaksinya yaitu reaksi dasar (Petrucci, 1982).
Laju reaksi atau kecepatan reaksi menyatakan banyaknya reaksi kimia yang berlangsung persatuan waktu. Laju reaksi menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan tiap detik reaksi, perkartan reaksi merupakan contoh reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan ledakan mesin atau kembang api adalah contoh reaksi yang tepat. Karena prsamaan laju reaksi didefinisikan dalam bentuk konsentrasi reaktan maka dengan naiknya konsentrasi maka naik pula kecepatan reaksinya. Artinya semakin tinggi maka semakin banyak molekul reaktan yang tersedia dengan demikian, kemungkinan bertumbuknya akan semakin banyak juga (Putri, 2020).
Reaksi kimia adalah proses berubahnya pereaksi menjadi hasil reaksi. Reaksi kimia ada yang berlangsung lambat dan ada yang cepat. Pada umunya reaksi yang terjadi pada senyawa anorganik yang biasanya berlangsung secara cepat sehingga sulit dipelajari mekanisme reaksi yang terjadi. Sedangkan reaksi pada senyawa organik berlangsung lambat. Pembahasan tentang kecepatan (laju) reaksi disebut kinetika kimia. Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi sipereaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi, atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, satuan tekanan atmosfer, dapat digunakan sebagai ganti konsentrasi (Irdiansyah, 2017).
Laju reaksi yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (m/s). secara umum, setiap reaksi dapat digambarkan dengan reaktan → produk. Persamaan ini memberitahukan bahwa, selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan bereaksi dengan molekul sedangkan molekul produk terbentuk. Sebagai hasilnya, untuk mengamati jalannya laju reaksi dengan cara memantau menurunnya konsentrasi reaktan atau meningkatnya konsentrasi produk. Menurunnya jumlah molekul reaktan dann meningkat jumlah molekul produk seiring berjalannya waktu,secara umum akan lebih mudah diamati apabila laju dinyatakan dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu. Bagaimana laju reaksi dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi pereaksi,tak dapat diramalkan dari persamaan reaksi keseluruhan. Suatu persamaan yang memberikan hubungan hubungan antara laju reaksi dan konsentrasi disebut persamaan laju, atau hokum laju. Tetapan kestabilan K dirujuk sebagai tetapan laju K tidak berubah sepanjang perjalanan reaksi. Jadi, laju reaksi memberikan suatu ukuran yang mudah bagi kecepatan reaksi. Makin cepat reaksi makin besar harga K, makin lambat harga K (Tsabitah,2014).
Laju reaksi dapat dilihat berdasarkan adanya perubahan pada konsentrasi reaktan dalam suaty waktu, laju reaksi bersifat tidak tetap, melainkan selalu berubah sesuai dengan perubahan konsentrasi.(Chang, 2005).
Setiap reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan berbeda-beda. Tentunya agar mengetahui waktu reaksi maka perlu mengkaji factor-faktor apa saja yang dapat memperlambat dan mempercepat prosesnya (Sutresna, 2008).
Adapun faktor - faktor yang berpengaruh terhadap laju reaksi antara lain yaitu, konsentrasi merupakan jumlah zat terlarut yang terdapat didalam suatu larutan. Apabila jumlahnya semakin banyak maka konsentrasi semakin besar. Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit jumlahnya maka konsentrasi semakin kecil. Didalam larutan yang memiliki konsentrasi tinggi terdapat lebih banyak partikel dibandingkan pada larutan berkonsentrasi rendah. Partikel - partikel tersebut memiliki susunan yang lebih rapat. Hal ini menyebabkan terjadi banyak tumbukan antar partikel sehingga dapat meningkatkan laju reaksi. Akibatnya, produk yang dihasilkan dari setiap reaksi semakin cepat terbentuk. Luas permukaan memiliki pengaruh besar terhadap laju reaksi. Apabila permukaanya semakin luas, dan mempercepat laju reaksi. Namun, jika luas bidang sentuhnya semakin kecil maka laju reaksi semakin lambat karena tumbukan partikel - partikelnya kecil. Karakter listrik dari setiap kepingan yang direaksikan juga akan memberikan pengaruh. Jika kepingan halus maka reaksi akan berlangsung lebih cepat. Namun, saat kepingannya kasar maka setiap reaksi memerlukan waktu semakin lama. Perubahan suhu mempengaruhi sebuah laju partikel. Saat suhu dinaikkan maka setiap partikel akan mempunyai energi lebih banyak sehingga semakin bergerak aktif. Frekuensi tumbukan pun akan meningkat. Dengan demikian, reaksi kimia akan berlangsung dengan cepat. Lain halnya saat suhu diturunkan, laju reaksi laju reaksi akan menurun karena partikel - partikel dari zat menjadi kurang aktif bergerak. Katalis berfungsi untuk mempercepat jalannya reaksi tanpa mengalami perubahan kimia secara permanen. Katalis tidak ada dalam persamaan kimia secara utuh, namun kehadirannya berpengaruh besar terhadap hukum laju. Efek katalis terlihat begitu nyata dalam laju reaksi, walaupun jumlahnya sangatlah sedikit. Adapun katalis juga dapat menurunkan energi aktivitas sehingga laju reaksi menjadi cepat (Chang, 2006).
Orde suatu reaksi adalah jumlah pangkat, faktor konsentrasi dalam hukum laju berbentuk diferensial. Pada umunya orde reaksi merupakan bilangan bulat dan kecil namun dalam beberapa kasus dapat berupa berupa bilangan pecahan atau nol. Orde reaksi terhadap suatu zat tertentu tidak sama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri. Reaksi harga n memberikan orde reaksi jika n = 0 maka laju reaksinya disebut orde nol terhadap x. Hal ini berarti bahwa perubahan konsentrasi tidak berpengaruh pada laju reaksi (Keenan, 1984).
Reaksi kimia ada yang berlangsung sangat cepat dan ada pula yang berlangsung lambat. Perkaratan besi adalah salah satu contoh reaksi yang berlangsung lambat, sedangkan reaksi ledakan dan reaksi nyala kembang api merupakan contoh reaksi berlangsung cepat. Cepat atau lambatnya reaksi kimia harus diungkapkan melalui besarnya perubahan reaktan atau produknya terhadap waktu. Dalam waktu tertentu, reaksi yang menghasilkan produk yang banyak artinya reaksi tersebut berlangsung cepat, sedangkan yang menghasilkan produk sedikit dapat diartikan sebagai reaksi yang berlangsung lambat (Rusman, 2020).
Konsentrasi reaktan seiring waktu menurun sampai tercapainya harga kesetimbangan dan konsentrasi produk meningkat dari yang pada awalnya berharga nol sampai terciptanya keadaan kesetimbangan. Untuk reaktan dan produk, apabila reaksi menunjukkan telah selesai, meski waktu berjalan terus, jumlah reaktan dan produk tidak akan berubah lagi. Dalam pernyataan tersebut tentang penggambaran berkurangnya reaktan dan bertambahnya produk reaksi, maka laju reaksi dapat dimaknai sebagai laju penurunan reaktan (pereaksi) atau laju bertambahnya produk (hasil reaksi). Secara umum, laju reaksi diartikan sebagai besarnya perubahan reaksi per satuan waktu. Reaksi dalam larutan, besarnya perubahan dihitung dalam satuan molaritas (M) dan waktu dalam detik atau sekon (s). Satuan laju reaksi dalam larutan adalah 𝑚. 𝑠−1 (Rusman, 2020).
Dalam suatu reaksi, apabila digambarkan dengan adanya perubahan reaktan menjadi produk, penurunan jumlah reaktan, dan penambahan jumlah produk, maka dapat mempunyai hubungan secara stoikiometri. Artinya, jika perubahan reaktan diketahui, maka perubahan produk dapat ditentukan dan juga sebaliknya jika perubahan pada produk diketahui, maka perubahan reaktan dapat ditentukan. Metode pengukuran konsentrasi dalam suatu campuran untuk menentukan laju reaksi, umumnya kurang menguntungkan dan kurang praktis. Reaksi dalam jasa larutan jika sampelnya diambil untuk dianalisis, sistem akan terganggu dan menyebabkan perbedaan perilaku yang dapat mengubah jalannya reaksi, dibandingkan ketika berada ditempatnya semula. Diperlukan banyak waktu untuk dianalisis, ketika sampel baru diambil, konsentrasi pengukuran tidak sama lagi karena konsentrasi berubah atau berjalan terus. Berbagai metode yang digunakan untuk menentukan laju reaksi, yaitu metode perubahan tekanan, spektroskopi, metode elektrokimia dan metode miscellaneous (Rusman, 2020).
3. Metodologi Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
– Botol semprot
– Bulb
– Corong kaca
– Gelas beaker
– Gelas kimia
– Gelas ukur
– Hotplate
– Kacamata
– Kalkulator ilmiah
– Keranjang alat
– Masker
– Pipet Tetes
– Pipet volume
– Sarung tangan
– Stopwatch
– Termometer
3.1.2 Bahan-bahan
– Aquadest
– Kanebo
– Kertas HVS
– Kertas label
– Kertas saring
– Larutan HCl 0,5 M
– Larutan HCl 1 M
– Larutan Na2S2O3 0,5 M
– Larutan Na2S2O3 1 M
– Sabun cair
– Spons
– Tisu
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Pengaruh Konsentrasi
3.2.1.1 Sistem Larutan HCl 0,5 M – Larutan Na2S2O3 1 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 1 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan HCl 0,5 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
3.2.1.2 Sistem Larutan HCl 1 M – Larutan Na2S2O3 1 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 1 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan Na2S2O3 ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
3.2.1.3 Sistem Larutan HCl 1 M – Larutan Na2S2O3 0,5 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 0,5 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
3.2.2 Pengaruh Suhu
3.2.2.1 Sistem Larutan HCl 0,5 M – Larutan Na2S2O3 1 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10ml larutan Na2S2O3 1 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dipanaskan hingga 40℃
– Dimasukkan 10ml larutan HCl 0,5 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan H2SO4 ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
3.2.2.2 Sistem Larutan HCl 1 M – Larutan Na2S2O3 1 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 1 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dipanaskan hingga 40℃
– Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
3.2.2.3 Sistem Larutan HCl 1 M – Larutan Na2S2O3 0,5 M
– Dibuat tanda (x) pada kertas HVS
– Dimasukkan 10ml larutan Na2S2O3 0,5 M dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS
– Dipanaskan hingga 40℃
– Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M
– Dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat
4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Pengaruh Konsentrasi
|
Konsentrasi Na2S2O3 [M] |
Konsentrasi HCl [M] |
t(s) |
𝐫(𝟏⁄𝐭) |
|
0,1 M |
0,5 M |
144 s |
0,7 × 10−2 |
|
0,1 M |
1 M |
102 s |
0,9 × 10−2 |
|
0,2 M |
1 M |
49 s |
2 × 10−2
|
4.1.2 Pengaruh Suhu
|
Konsentrasi Na2S2O3 [M] |
Konsentrasi HCl [M] |
T(℃) |
t(s) |
𝐫(𝟏⁄𝐭) |
|
0,1 M |
0,5 M |
40℃ |
60 s |
1,7 × 10−2 |
|
0,1 M |
1 M |
40℃ |
48 s |
2,1 × 10−2 |
|
0,2 M |
1 M |
40℃ |
13 s |
7,7 × 10−2 |
4.2 Reaksi
Na2SO3(aq) + 2HCl(aq) -----> 2NaCl(aq) + S (s) +SO2 (g) +H2O(l)
4.3 Perhitungan
4.3.1 Perhitungan Pengaruh Konsentrasi
4.3.1.1 Laju Reaksi Terhadap Na2S2O3
Diketahui : V3 = 0,020
V2 = 0,009
[Na2SO3]3 = 0,2 M
[Na2SO3]2 = 0,1 M
[HCl]3 = 1 M
[HCl]2 = 1 M
4.3.1.2 Laju Reaksi Terhadap HCl
Diketahui : V2 = 0,009
V1 = 0,007
[Na2SO3]2 = 0,1 M
[Na2SO3]1 = 0,1 M
[HCl]2 = 1 M
[HCl]1 = 0,5 M
Ditanya : Orde Reaksi Na2SO3 (x) dan HCl (y), orde total, dan konstanta laju reaksi...
Jawab : a) Orde reaksi [Na2S2O3]x
V3 = k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
V2 k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
0,020 = k [ [0,2]x[1]y
0,009 k [ [0,1]x[1]y
2,222 = [2]x
x = log. 2,222
log 2
x = 0,346 / 0,301
b) Orde reaksi [HCl]y
V2 = k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
V1 k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
0,009 = k [ [0,1]x[1]y
0,007 k [ [0,1]x[0,5]y
1,285 = [2]y
y = log. 1,285
log 2
y = 0,108 / 0,301
y = 0,358
c) Orde total
Orde total = x + y
= 1,149 + 0,358
= 1,507
d) Konstanta laju reaksi
v = k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
0,007 = k [0,1]1,149 [1]0,358
k = 0,007
[0,1]1,149 [1]0,352
k = 0,007
0,7. 1
k = 0,01
4.3.2 Perhitungan Pengaruh Suhu
4.3.2.1 Laju Reaksi Terhadap Na2S2O3
Diketahui : V3 = 0,017
V2 = 0,021
[Na2SO3]3 = 0,2 M
[Na2SO3]2 = 0,1 M
[HCl]3 = 1 M
[HCl]2 = 1 M
4.3.2.2 Laju Reaksi Terhadap HCl
Diketahui : V2 = 0,021
V1 = 0,017
[Na2SO3]2 = 0,1 M
[Na2SO3]1 = 0,1 M
[HCl]2 = 1 M
[HCl]1 = 0,5 M
Ditanya : Orde Reaksi Na2SO3 (x) dan HCl (y), orde total, dan konstanta laju reaksi
Jawab : a) Orde reaksi [Na2S2O3]x
V3 = k [Na2S2O3]x[HCl]y
V2 k [Na2S2O3]x[HCl]y
0,017 = k [0,2]x[1]y
0,021 k [0,1]x[1]y
3,666 = [2]x
x = log. 3,666
log 2
x =0,564 / 0,301
x = 1,873
b) Orde reaksi [HCl]y
V2 = k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
V1 k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
0,021 = k [ 0,1]x[1]y
0,017 k [0,1]x[0,5]y
1,235 = [2]y
y = log. 1,235
log 2
y = 0,091 / 0,301
y = 0,302
c) Orde total
Orde total = x + y
= 1,875 + 0,302
= 2, 175
d) Konstanta laju reaksi
v = k [ [Na2S2O3]x[HCl]y
0,017 = k [0,1]1,873 [1]0,302
k = 0,007
[0,1]1,873 [1]0,302
k = 0,017
0,013
k = 1,307
4.4 Pembahasan
Partikel - partikel yang terdapat dalam gas, zat cair, atau larutan selalu bergerak secara acak. Pergerakan partikel-partikel yang acak ini akan mengakibatkan terjadinya tumbukan antar partikel. Tumbukan antar partikel ini akan menghasilkan energi yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi. Akan tetapi, jumlah energi yang dihasilkan harus mencukupi untuk memulai terjadinya reaksi. reaksi kimia terjadi akibat adanya tumbukan antar partikel. Partikel zat pereaksi zat yang menghasilkan energi yang cukup untuk memulai reaksi.
Pada percobaan pertama yaitu pengaruh konsentrasi dimana memiliki tujuan yakni untuk mengetahui pengaruh konsentrasi terhadap laju terhadap laju reaksi. Tumbukan yang menghasilkan reaksi disebut dengan tumbukan efektif. Dimana pada percobaan pengaruh konsentrasi yang pertama yakni menggunakan larutan HCl 0,5 M dengan larutan Na2S2O3 0,1 M. Adapun prosedur percobaannya yaitu mula - mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS yang berfungsi sebagai penanda bahwa larutan telah bereaksi sempurna atau sebagai tolak ukur dengan penentu laju reaksi. Kemudian dimasukkan 10 mL Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS yang sudah diberi tanda (x) dengan menggunakan spidol. Larutan Na2S2O3 0,1 M berupa larutan bening. Fungsi dari gelas kimia untuk wadah mereaksikan larutan, kertas HVS yang telah diberi tanda (x) yang berfungsi untuk menentukan laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan HCl 0,5 M, larutan HCl berupa larutan bening. Kemudian dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat sampai waktu 144 s.
Pada percobaan pengaruh konsentrasi kedua dengan menggunakan sistem larutan HCl 1 M dan larutan Na2S2O3 0,1 M. Adapun prosedur dari percobaan ini yaitu mula - mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS yang berfungsi sebagai penanda bahwa larutan telah bereaksi sempurna atau sebagai tolak ukur dalam penentu laju reaksi. Mula - mula dimasukkan 10 mL Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas beaker yang diletakkan di atas kertas yang telah diberi tanda (x) berfungsi untuk menentukan laju reaksi, dengan menggunakan spidol. Larutan Na2S2O3 0,1 M berupa larutan bening, gelas kimia berfungsi untuk wadah mereaksikan larutan, kertas HVS yang telah diberi tanda (x) berfungsi untuk menentukan laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M dimana larutan HCl berupa larutan bening, kemudian dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat, dan didapatkan hasil larutan berwarna putih dan tanda (x) tidak terlalu terlihat dengan waktu 102 s.
Pada percobaan pengaruh konsentrasi ketiga yakni dengan menggunakan sistem larutan HCl 1 M dengan larutan Na2S2O3 0,2 M, mula - mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS yang berfungsi sebagai tolak ukur dalam penentu laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 0,2 M ke dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS yang telah diberi hasil tanda (x) dengan menggunakan spidol. Larutan Na2S2O3 0,2 M berupa larutan bening, gelas kimia berfungsi sebagai wadah untuk menentukan laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan HCl 1 M, larutan HCl berupa larutan bening. Kemudian dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl, ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat dengan waktu 49 s.
Pada percobaan kedua yaitu pengaruh suhu yang memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui apa pengaruh suhu terhadap laju reaksi yang dimana mempunyai prinsip yaitu partikel - partikel yang terdapat dalam gas cair atau partikel yang acak ini akan mengakibatkan terjadinya tumbukan antar partikel. Tumbukan antar partikel ini akan menghasilkan energi yang dapat menyebabkan terjadinya reaksi. Akan tetapi, jumlah yang menghasilkan energi yang cukup untuk memulai reaksi.
Dimana pada percobaan pengaruh suhu pertama yaitu larutan HCl 0,5 M dengan larutan Na2S2O3 0,1 M, mula-mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS yang berfungsi sebagai penanda bahwa larutan telah bereaksi sempurna atau sebagai tolak ukur dalam penentu laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas beaker yang diletakkan di atas kertas HVS yang sudah diberi tanda (x) dengan spidol, dipanaskan larutan HCl 0,5 M di hotplate hingga 40℃ yang berfungsi untuk memanaskan larutan, kemudian dimasukkan 10 mL HCl 0,5 M, larutan HCl berupa larutan bening kemudian dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCL 0,5 M ditambahkan hingga tanda (x) dengan spidol tidak terlihat didapatkan hasil larutan putih dan tanda (x) tidak terlihat dengan 60 s.
Pada percobaan kedua pengaruh suhu yang menggunakan larutan HCl dengan larutan Na2S2O3 0,1 M, mula - mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS dengan spidol, dibuat tanda (x) ini berfungsi sebagai penanda bahwa larutan telah bereaksi sempurna atau sebagai tolak ukur dalam penentu laju reaksi. Dimasukkan larutan 10 mL larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS yang telah diberi tanda (x) dengan spidol. Dipanaskan larutan HCl 0,1 M ke dalam hotplate dengan suhu 40℃, hotplate digunakan untuk memanaskan larutan yang kemudian dimasukkan 10 mL HCl 1 M larutan HCl berupa larutan bening. Kemudian bening dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat dengan waktu 48 s.
Pada percobaan ketiga pengaruh suhu larutan HCl 1 M dengan larutan Na2S2O3 0,2 M, mula - mula dibuat tanda (x) pada kertas HVS yang berfungsi dalam penentuan bahwa tolak ukur dalam penentu laju reaksi. Dimasukkan 10 mL larutan Na2S2O3 0,2 M ke dalam gelas kimia yang diletakkan di atas kertas HVS yang sudah diberi tanda (x) dengan spidol, dipanaskan larutan HCl 1,5 M di hotplate yang berfungsi memanaskan larutan, dimasukkan 10 mL HCl 1 M, larutan HCl berupa larutan bening kemudian dihitung waktu yang dibutuhkan saat larutan HCl 1 M ditambahkan hingga tanda (x) tidak terlihat dan didapatkan hasil larutan berwarna putih dengan waktu 13 s.
Adapun hasil grafik dari laju reaksi pengaruh konsentrasi dan pengaruh suhu adalah:
Berdasarkan hasil grafik pada laju reaksi pengaruh konsentrasi sistem larutan HCl 0,5 M - larutan Na2S2O3 1 M didapatkan hasil titik maksimumnya pada larutan Na2S2O3 0,1 M dan larutan HCl 0,5 M sebesar 144 s. Dan titik minimum pada larutan Na2S2O3 0,2 M dan larutan HCl 1 M sebesar 49 s.
Berdasarkan hasil grafik pada laju reaksi pengaruh suhu sistem larutan HCl 0,5 M - Na2S2O3 1 M didapatkan hasil titik maksimumnya pada larutan Na2S2O3 0,1 M dan larutan HCl 0,5 M sebesar 60 s dan titik minimum pada larutan Na2S2O3 0,2 M dan larutan HCl 1 M sebesar 13 s.
Faktor - faktor kesalahan dalam percobaan ini yaitu:
– Kurang berhati - hati saat memegang termometer sehingga mengenai tangan dan menyebabkan suhu tidak stabil
– Ketidaktelitian dalam menghitung suhu dan membaca suhu pada termometer sehingga besar suhu yang dihitung tidak sesuai pada termometer
5. Penutup
5.1 Kesimpulan
– Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh nilai r(1⁄t) dari konsentrasi Na2S2O3 0,5 M dan konsentrasi HCl 0,5 M dengan pengaruh konsentrasi pada percobaan laju reaksi sebesar
0,7 × 10−2
– Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh nilai r(1⁄t) dari konsentrasi Na2S2O3 0,2 M dan konsentrasi HCl 1 M dengan pengaruh konsentrasi pada percobaan laju reaksi sebesar 2 × 10−2
– Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh nilai r(1⁄t) dari konsentrasi Na2S2O3 0,1 M dan konsentrasi HCl 0,5 M dengan pengaruh suhu pada percobaan laju reaksi sebesar 1,7 × 10−2
5.2 Saran
Pada percobaan selanjutnya diharapkan dapat menggunakan HNO3 sebagai pengganti larutan HCl yang memiliki sifat yang sama yaitu asam kuat agar dapat diperoleh hasil yang lebih bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adiguna. 2018. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi dan Sifat Laju Reaksi Melalui Perubahan Konsentrasi. Surabaya : FKIP.
Atkins, P. W. 1996. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta : Erlangga.
Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Edisi Kimia Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Chang, R. 2006. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Goktavian, C., Anci, F. F. & Afrianis, R. (2014). Kimia Dasar II Laju Reaksi, Jurnal Praktikum Kimia, 11(02), 2-5.
Haryono, H. (2017). Analisis Kinetika Reaksi Pembentukan Kerak CaCO3- CaSO4. Jurnal Kimia ,17 (2): 40-51.
Hastuti, P.W. 2013. Laju Reaksi. Yogyakarta : UNY.
Mon, I., Yerimadesi & Hardeli. 2012. Kimia-Fisika. Kinetika Kimia. Padang : UNP Press Padang.
Keenan, C. W. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Keenan, C. W. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Moore, J. W., Stanitski, Conrad L. & Jurs, P. C. 2008. Chemistry : The Molecular Science Third Edition. Canada: Thomson Brooks/Cole.
Nasution, M. B., Arifah, M. & Tsabitah, R. N. (2014). Pengamatan Laju Reaksi Terhadap Faktor-Faktor yang mempengaruhinya. Jurnal Laju Reaksi. 1(1),1-8.
Oxtoby, D. W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern jilid 2 Edisi Kelompok. Jakarta : Erlangga.
Petrucci, R. 1982. Kimia Dasar dan Terapan. Jakarta : Erlangga.
Patiha. (2013). Penentuan Tetapan Laju Reaksi Balik dan Tetapan Kesetimbangan Dengan Pendekatan Searah dan Hukum Laju Reaksi Maju. Alehem Jurnal Penelitian Kimia, 2(1),22-23.
Prayitno, (2007). Kajian Kinetika Kimia Model Matematika Reduksi Kadmium Melalui Laju Reaksi Konstanta dan Orde Reaksi dalam Proses Elektrokimia. Pustek Akslerator dan proses bahan –BATAN,10 (1), 28.
Purba, E. (2012). Kajian Awal Laju Reaksi Fotosintesis untuk penyerapan Gas CO2 Menggunakan Mikroalga Tetraselmis Chuii. Jurnal Rekayasa Proses, 6.(1),4-5.
Putri, A. 2020. Kimia Laju Reaksi. Malang : Grafika Media.
Rusman. 2019. Kinetika Kimia. Banda Aceh : Syiah Kuala Pres.
Sastrohamidjojo, H. 2018. Kmia Dasar. Yogyakarta : UGM Press.
Sucipto, 2019. Modul Tentang Laju Reaksi. Jakarta : Direktorat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sunarya, Y. 2012. Kimia Dasar 2. Bandung : Yrama Widya.
Suryatno. 2003. Kimia Partikel dan Konfigurasi Partikel. Jakarta : Erlangga.
Sutresna, N. 2008. Kimia Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Bandung : Grafika Media Pratama.
Syindjia, Z. 2014. Laju Reaksi. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar jilid 1. Bandung : ITB.
Wayan. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Teori Tumbukan pada Laju Reaksi Kimia. Badung : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana.
Yuda, R., C., Irdiansyah & Prihatiningtyas, I. (2017). Studi Pengaruh Suhu Terhadap Ekstraksi Minyak. Jurnal Chemurgy, 1(1), 12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar