PEMISAHAN DAN PEMURNIAN
1.
Tujuan
- Untuk mengetahui hasil reaksi pasir pantai dengan aquades pada percobaan dekantasi.
- Untuk mengetahui hasil reaksi naftalena dengan garam dapur pada percobaan sublimasi.
- Untuk mengetahui hasil reaksi norit
dengan sirup pada percobaan adsorpsi.
2.
Landasan Teori
Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu
cara atau metode untuk memisahkan atau memurnikan
suatu zat dari campurannya, baik dalam skala laboratorium maupun skala
industri. Pada dasarnya, pemisahan
dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur sedangkan
pemurnian dilakukan untuk memurnikan suatu zat yang tercemar oleh zat lain (Sastrawidana, 2018).
Pemurnian adalah suatu proses memurnikan suatu campuran untuk mendapatkan zat zat murni. Reaksi yang berfungsi pelarut dan katalisator dalam suatu reaksi untuk menghasilkan suhu senyawa yang dimaksud maka diperlukan pemisahan dan pemurnian. Oleh karena itu apabila ingin suatu hasil yang murni maka diperlukan proses pemurnian. Pemurnian dapat dilakukan dengan ekstraksi, filtrasi, sentrifugasi, rekristalisasi dan sublimasi (Chandra, 2016).
Ada tiga istilah yang harus dipahami dan diingat dalam ilmu kimia yaitu unsur, senyawa, dan campuran. Unsur adalah materi yang tidak dapat diuraikan dengan reaksi kimia menjadi zat yang lebih sederhana. Contohnya hidrogen, oksigen, besi, tembaga dan sebagainya (Syukri, 1999).
Senyawa adalah materi yang dibentuk dari dua zat atau lebih dengan perbandingan tertentu. Jadi senyawa masih bisa diuraikan menjadi unsur pembentukannya. Contohnya adalah air. Unsur dan senyawa disebut zat tunggal karena partikel terkecilnya satu macam (Syukri, 1999).
Campuran merupakan suatu materi yang
dibuat dari penggabungan dua zat berlainan atau lebih menjadi suatu zat fisik. Tiap zat dalam campuran tetap
mempertahankan sifat-sifat aslinya, yaitu
campuran terbentuk tanpa melalui reaksi kimia, mempunyai sifat zat asalnya,
terdiri dari dua jenis zat tunggal atau lebih, komposisinya tidak tetap. Zat atau materi dapat dipisah
dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat (Sari, 2019).
Campuran terbagi menjadi dua yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran homogen (larutan) merupakan campuran unsur-unsur atau senyawa yang mempunyai susunan seragam dan juga merupakan penggabungan zat tunggal atau lebih yang semua partikelnya menyebar secara merata hingga membentuk satu fase. Campuran heterogen adalah campuran yang komponen-komponennya dapat memisahkan diri secara fisik karena perbedaan sifatnya dan penggabungan yang tidak merata antara dua zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan yang lainnya tidak sama, dan antara komponennya masih terdapat bidang batas dan dapat dibedakan menggunakan mata telanjang serta campuran memiliki dua fase, sehingga sifat-sifatnya tidak seragam (Petrucci, 1996).
Campuran yang digunakan untuk
pemisahan dan pemurnian dapat digolongkan menjadi
tiga yaitu larutan, koloid,
dan suspense. Larutan adalah campuran homogen, suatu campuran dikatakan homogen jika antar komponennya tidak
terdapat bidang batas sehingga terbedakan lagi walaupun dengan menggunakan mikroskop
ultra sekalipun. Komponen
larutan dibedakan atas pelarut dan zat terlarut. Proses pelarut di dipengaruhi
oleh pengadukan atau jika zat terlarut lebih halus. Koloid adalah
suatu campuran yang keberadaanya terletak
antara larutan dan suspensi. Secara
mikroskopis, koloid tampak
homogen tetapi jika diamati dengan menggunakan mikroskop ultra maka akan tampak heterogen. Suspense adalah campuran
dasar dan tampak heterogen antar komponennya
masih terdapat bidng batas sehingga tidak terbedakan tanpa menggunakan mikroskop. Istilah suspense biasanya dimasukkan untuk
campuran heterogen dan suatu zat padat dalam zat cair (Keenan, 1980).
Zat terlarut memiliki jumlah lebih
sedikit dari zat pelarut dalam larutan, semua zat terlarut akan larut dalam
air. Zat terlarut
dibagi menjadi dua kelompok: elektrolit dan non elektrolit. Larutan adalah
campuran homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang bercampur adalah zat
terlarut dan pelarut (Chang, 2004).
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat
banyak ditemui berbagai contoh campuran misalnya campuran air dengan minyak yang merupakan campuran heterogen.
Campuran air dan gula yang merupakan
campuran homogen (larutan). Campuran air yang sebagai pelarut dan pasir sebagai bahan pelarutnya yang merupakan contoh
koloid. Campuran air sebagai pelarut dan kapur sebagai pelarutnya yang
merupakan contoh suspense (Dwi,
2021).
Perbedaan agregasi (penampilan materi)
seperti zat padat
dan zat cair sangat mempengaruhi metode pemisahan dan
pemurnian yang diperlukan, maka dapat dibedakan menjadi:
a. Memisahkan zat padat dari suspense
b.
Memisahkan zat padat
dari larutan
c.
Memisahkan campuran dan zat cair
d. Rekristalisasi dan penyulingan
(Syukri, 1999).
Pemisahan campuran didasarkan pada perbedaan sifat pada campuran berbagai metode pemisahan diantaranya yaitu metode dekantasi, metode filtrasi, metode rekristalisasi, metode adsorpsi, metode ekstraksi dan metode sublimasi (Sudjadi, 1998).
Dekantasi merupakan proses pemisahan campuran larutan dan padatan yang paling sederhana, dalam prosedurnya hanya menuangkan cairan secara perlahan sehingga dibagian dasar bejana. Teknik ini dilakukan apabila endapan memiliki endapan yang lebih besar dan massa jenis yang lebih besar sehingga dapat terpisah dengan baik, salah satunya yaitu Sari jahe dan kencur yang dilarutkan dengan air sehingga terdapat endapan (Syukri, 1999).
Filtrasi atau penyaringan adalah suatu
proses untuk menghasilkan zat padat tersuspensif yang diukur dengan kekeruhan air melalui media berpori.
Penyaringan melalui media berpori berlangsung dengan cara menghambat patikel-partikel kedalam ruang pori sehingga
terjadi pengumpulan dan tumpukan partikel
tersebut pada permukaan butiran
media (Ariyani, 2020).
Proses pemurnian garam dapat dilakukan
dengan meninjau beberapa cara yaitu melalui perbaikan
kualitas air laut sebagai bahan baku, perbaikan filtrasi produksi dan perbaikan
hasil produksi (Garam yang dihasilkan). Peningkatan kualitas garam melalui garam yang sudah dihasilkan dapat dilakukan secara kimia dan fisika (Kharismanto dkk, 2021).
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian
suatu zat padat dari campuran atau pengotornya
dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan
atau dilakukan dengan pelarut yang
sesuai. Prinsip unsur yang digunakan yaitu perbedaan kelarutan rekristalisasi
suatu zat dari metode yang paling
ampuh untuk pemurnian zat padat didasarkan pada perbedaan antara kelarutan zat yang digunakan. Sebuah larutan mulai mendapatkan sebuah
senyawa dalam rekristalisasi hingga pelarut tersebut mencapai titik jenuh terhadap senyawa tersebut (Labibah dkk, 2020).
Rekristalisasi adalah teknik klasik dalam pemurnian
senyawa organik. terlalu
banyak campuran senyawa
organik tidak mudah dimurnikan dengan teknik rekristalisasi, dapat dilakukan dengan pengujian menguapkan pelarutnya. Jika padat berarti dapat direkristalisasi tetapi jika residunya cair, tidak dapat dimurnikan dengan rekristalisasi. Untuk alasan ini, bekerja di laboratorium kimia organik menggunakan pengetahuan yang luas tentang teknik pemurnian senyawa
organik (Sitorus, 2012).
Adsorpsi merupakan suatu metode
pemisahan untuk membersihkan suatu senyawa atau bahan dari pengotornya dengan cara penarikan atau penyerapan
oleh bahan pengadsorpsi secara kuat
sehingga zat pengotor tidak ikut larut dalam proses pemurnian melainkan
menempel pada permukaan bahan pengadsorpsi (Sastrohamidjojo,
2018).
Ekstraksi merupakan metode pemisahan campuran zat atas dasar perbedaan pelarutan zat terlarut di dalam pelarut yang berbeda. Ekstraksi sering dilakukan untuk mengambil sari tumbuhan. Evaporasi merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan zat padat terlarut dari larutannya. Evaporasi dilakukan dengan cara larutan di panaskan secara perlahan dengan uap air, selama pemanasan air akan menguap perlahan-lahan meninggalkan larutan sehingga terbentuk kristal sebagai residu (Fibrianto, 2008).
Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu, maka partikel tersebut diturunkan akan menyublim menjadi gas. Dan sebaliknya jika suhu gas tersebut diturunkan maka gas akan segera berubah wujud menjadi padat. Syarat pemisahan partikel yang tercampur harus (perbedaan titik didih besar) (Labibah dkk, 2020).
Langkah-langkah pemisahan campuran
dengan sublimasi menggunakan Teknik sederhana.
Pemisahan campuran dengan sublimasi dibagi menjadi secara makroskopik,
mikroskopik dan simbolik. Makroskopik ditunjukkan dengan seperangkat peralatan sublumasi dan bahan-bahan yang diperlikan berupa
pasir dan kapur
barus. Mikroskopik berupa gambaran proses
pemisahan pasir dan kapur
barus melalui proses sublimasi. Dan simbolik digambarkan dengan adanya
penyimpulan serbuk kapur barus berupa bulatan kuning dan hitam (Pratiwi, 2016).
Pada pemisahan zat padat yang terlarut
dalam zat cair terdapat penguapan di mana pada
penguapan larutan yang dipanaskan akan menguap dan meninggalkan zat
terlarut dan kristalisasi merupakan pemisahan
komponen-komponen dengan cara mengkristalkan dan dipanaskan kemudian didinginkan titik sedangkan
pemisahan zat padat yang tidak larut dalam zat cair adalah dekantasi atau pengendapan dilakukan
dengan cara diendapkan dan filtrasi yaitu suatu proses pemisahan dengan menggunakan penyaring. Pemisahan zat padat dari
zat padat sama dengan pemisahan zat
padat yang larut dalam zat cair namun pada pemisahan zat padat dari zat padat terdapat
sublimasi dimana jenis padatan yang dapat menyublim
dan jenis padat tidak dapat
menyublim saling menyublim
titik untuk pemisahan zat cair dari zat cair ada interaksi pelarut yaitu pemisahan campuran berdasarkan perbedaan
kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda
(Resni, 2013).
Perubahan dari cair menjadi padat
disebut pembekuan dan proses kebalikannya di sebut pelehan atau peleburan. Titik leleh normal suatu zat adalah
titik leleh yang diukur pada tekanan suatu atm. Kesetimbangan cairan
padat yang sangat
dikenal adalah kesetimbangan air dan es energi yang dibutuhkan untuk
melelehkan 1 mol disebut
kalor peleburan molar (Sastrohamidjojo, 2018).
3.
Metodologi Percobaaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat:
- Alu
- Batang pengaduk
- Bulp
- Botol semprot
- Cawan penguap
- Corong gelas
- Corong pisah
- Gelas kimia
- Gelas ukur
- Gunting
- Hot plate
- Kanebo
- Keranjang alat
- Labu Erlenmeyer
- Lumpang
- Pipet ukur
- Pipet tetes
- Sikat tabung
- Spatula
- Tabung reaksi
3.1.2 Bahan-bahan:
-
Aquades
-
Aluminium foil
-
Garam dapur
-
Garam kotor
-
Kapur tulis warna-warni
-
Kertas label
-
Kertas saring
-
Minyak goreng
-
Naftalena
-
Norit
-
Pembersih meja
- Pasir
-
Sabun cair
-
Sirup marjan
-
Spons
-
Tisu
-
Vaseline
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Dekantasi
- Dimasukkan 3 sendok pasir ke dalam gelas beaker
- Ditambahkan 50 mL aquades
- Dihomogenkan
- Didiamkan
- Diamati
3.2.2 Filtrasi
-
Di masukkan
5 sendok kapur tulis yang telah di haluskan ke dalam gelas beaker
-
Ditambahkan 50 mL aquades
-
Dihomogenkan
-
Disaring menggunakan corong kaca yang telah di beri kertas saring
- Diamati
3.2.3 Rekristalisasi
-
Dimasukkan 5 sendok
garam kotor ke dalam gelas beaker
-
Ditambahkan 30 mL aquades
-
Dihomogenkan
-
Dipanaskan
- Diamati
3.2.4 Adsorpsi
-
Dimasukkan 5
sendok norit ke dalam corong yang di beri kertas saring
-
Ditambahkan 30
mL sirup
- Diamati
3.2.5 Ekstraksi
-
Dimasukkan 50
mL aquades ke dalam corong pisah
-
Ditambahkan 30 mL minyak goreng
-
Dihomogenkan
-
Didiamkan
-
Diamati
-
Ditambahkan 10 mL sabun
cair
- Dihomogenkan
-
Didiamkan
- Diamati
3.2.6 Sublimasi
-
Dimasukkan 5
sendok naftalena yang telah
di haluskan ke dalam
cawan penguap
-
Ditambahkan 2 sendok garam dapur
-
Ditutup dengan corong
kaca yang telah
diberi kertas saring dengan posisi terbalik
-
Disumbat corong kaca dengan tisu
-
Dipanaskan
-
Diamati
4.
Hasil dan Pembahasan
4.1
Hasil Pengamatan
|
No |
Perlakuan |
Hasil Pengamatan |
|
1. |
Dekantasi |
|
|
|
- Dimasukkan 5 sendok
pasir kedalam gelas
beaker. |
- Pasir berupa padatan berwarna cokelat sebagai sampel. |
|
|
- Ditambahkan 50 mL aquades. |
- Aquades
berupa larutan bening. |
|
|
- Dihomogenkan. |
|
|
|
- Diamati. |
- Terdapat endapan pasir
pada permukaan gelas beaker dan dihasilkan larutan berwarna cokelat keruh. |
|
2. |
Filtrasi |
|
|
|
- Dimasukan 5 sendok kapur
tulis yang telah dihaluskan
kedalam gelas beaker. |
- Kapur
tulis berupa serbuk
berwarna merah muda. |
|
|
- Ditambahkan
50 mL aquades |
- Aquades berupa
larutan bening. |
|
|
- Dihomogenkan. |
|
|
|
- Disaring menggunakan corong
kaca. |
|
|
|
- Diamati. |
- Residu yang
berupa kapur tulis akan bertahan di kertas saring
dan dihasilkan filtrat berupa aquades yang lolos dari kertas
saring berwarna larutan bening sedikit keruh. |
|
3. |
Rekristalisasi |
|
|
|
- Dimasukkan 5 sendok garam
kotor kedalam gelas
beaker. |
- Garam kotor
berupa padatan berwarna Putih. |
|
|
- Ditambahkan
30 mL aquades. |
- Aquades berupa
larutan bening. |
|
|
- Dihomogenkan. |
|
|
|
- Dipanaskan. |
|
|
|
- Diamati. |
- Zat pengotor
pada garam kotor akan berubah
menjadi cairan dan menguap menjadi
gas, sedangkan zat murni berupa
garam yang lebih murni akan mengkristal kembali dan tertempel pada gelas beaker. |
|
4. |
Adsorpsi |
|
|
|
- Ditambahkan 5
sendok norit ke dalam corong yang
diberi kertas saring. |
- Norit berupa
serbuk berwarna hitam. |
|
|
- Ditambahkan
30 mL sirup. |
- Sirup berupa
cairan berwarna hijau
pekat. |
|
|
- Diamati |
- Sirup yang tersaring berupa cairan berwarna hijau yang jauh
lebih jernih. |
|
5. |
Ekstraksi |
|
|
|
- Dimasukkan 50 mL aquades
kedalam corong pisah. |
- Aquades berupa
larutan bening. |
|
|
- Ditambahkan 30 mL minyak goreng. |
- Minyak goreng berupa
larutan kuning keemasan. |
|
|
- Dihomogenkan. |
|
|
|
- Didiamkan. |
|
|
|
- Diamati. |
-
Terdapat dua fase dimana fase atas berupa minyak
dan fase bawah
berupa aquades. |
|
|
- Ditambahkan 10 mLsabun cair. |
- Sabun
berupa larutan berwarna hijau. |
|
|
- Dihomogenkan. |
|
|
|
- Didiamkan. |
|
|
|
- Diamati. |
- Minyak dan aquades
setelah ditambahkan minyak akan
menyatu membentuk sistem emulsi berupa
larutan berwarna putih. |
|
6. |
Sublimasi |
|
|
|
- Dimasukkan 5 sendok naftalena yang
telah di haluskan ke dalam cawan penguap. |
- Naftalena berupa
serbuk berwarna putih. |
|
|
- Ditambahkan 3 sendok
garam dapur. |
- Garam dapur berupa
padatan berwarna putih. |
|
|
- Ditutup dengan corong
kaca yang telah diberi kertas saring dengan posisi
terbalik. |
|
|
|
- Disumbat corong
kaca dengan tisu. |
|
|
|
- Dipanaskan. |
|
|
|
- Diamati. |
- Terjadi penyubliman dimana naftalena berubah wujud menjadi gas sehingga yang tertinggal
dicorong kaca adalah garam berbentuk kristal berwarna puih. |
4.1 Pembahasan
Percobaan dekantasi dilakukan dengan cara memasukkan 3 sedok pasir yang berupa
padatan berwarna coklat kedalam gelas beaker yang berfungsi sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan spatula yang
berfungsi untuk mengambil objek berupa pasir.
Kemudian ditambahkan 50 mL aquades
berupa larutan bening,
aquades diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume
cairan yaitu aquades.
Lalu dihomogenkan padatan
pasir dan larutan aquades yang berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna dengan
menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk
mencampurkan bahan kimia. Dan didiamkan. Selanjutnya diamati dan menghasilkan larutan berwarna coklat keruh dan
terdapat endapan. Percobaan ini sesuai dengan prinsip dekantasi yang berlaku berdasarkan dari perbedaan wujud zat dan
massa jenis di dalam campuran
sehingga menyebabkan massa jenis yang lebih besar berada pada bagian bawah atau terjadi pengendapan. Dekantasi
bertujuan untuk memisahkan campuran larutan dan padatan dari campuran
larutannya.
Percobaan filtrasi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok kapur tulis yang berupa padatan berwarna biru yang telah di gerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker yang berfungsi sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan spatula yang berfungsi untuk mengambil objek berupa kapur tulis. Lalu ditambahkan 50 mL aquades berupa larutan bening, aquades diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades. Selanjutnya dihomogenkan padatan kapur tulis yang telah digerus dan larutan aquades yang berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna, dengan menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk mencampurkan bahan kimia. Kemudian disaring menggunakan corong kaca yang berfungsi sebagai alat untuk memindahkan larutan dari suatu wadah ke wadah yang lain, yang telah diberi kertas saring yang berfungsi memisahkan antara zat terlarut dari zat padat. Kemudian diamati sehingga menghasilkan larutan filtrat berwarna bening dan residu berupa campuran berwarna biru. Percobaan ini sesuai dengan prinsip filtrasi yang berlaku berdasarkan penyaringan ukuran partikel padat yang bercampur dalam larutan yang berarti hasil yang diperoleh dari hasil penyaringan bergantung pada ukuran pori-pori pada penyaringan yang di gunakan filtrasi bertujuan untuk memisahkan zat padat dan zat cair pada campuran sehingga dihasilkan zat murni
Percobaan rekristalisasi dilakukan degan
cara memasukkan 5 sendok garam kotor berupa kristal
berwarna putih kedalam
gelas beaker yang berfungsi
sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan
spatula yang berfugsi untuk mengambil objek berupa
garam kotor kemudian ditambahkan 30 mL aquades berupa larutan bening, aquades diukur
menggunakan gelas ukur yang
berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades. Lalu dihomogenkan berfungsi
untuk mencampurkan larutan
secara rata dan sempurna
dengan menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk mencampurkan bahan kimia. Selanjutnya di panaskan
menggunakan hot plate yang berfungsi
memanaskan sekaligus mencampurkan
larutan kimia. Selanjutnya diamati sehingga menghasilkan kristal berwarna putih. Percobaan ini sesuai dengan prinsip rekristalisasi yang berdasarkan perbedaan kelarutan antara zat yang akan
di murnikan dengan zat pengotornya, karena konsentrasi
total pengotor biasanya lebih kecil denga konsentrasi yang dimurnikan, dalam kondisi dingin konsentrasi zat pengotor
yang rendah tetap dalam larutan sementara yang
memiliki konsentrasi tinggi
dan mengendap. Rekristalisasi bertujuan untuk mengetahui atau mendapatkan zat
murni dari campuran tersebut.
Percobaan adsorpsi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok norit berupa padatan hitam yang telah digerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan kedalam corong kaca yang berfungsi sebagai alat untuk membantu memindahkan larutan dari suatu wadah ke wadah yang lain, yang telah diberi kertas saring yang berfungsi memisahkan antara zat terlarut dan zat padat dengan menggunakan spatula yang berfungsi mengambil objek berupa norit yang telah digerus, norit berfungsi menyerap partikel warna. Lalu ditambahkan 30 mL sirup marjan beupa larutan berwarna hijau yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu sirup marjan. Selanjutnya didiamkan dan kemudian diamati dan menghasilkan filtrat berupa sirup lebih jernih dan residu berupa padatan berwana hitam. Percobaan ini sesuai dengan prinsip adsorpsi yang berdasarkan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsi. Disini norit berfungsi sebagai karbon aktif dan sebagai adsorben, sedangkan sirup marjan yang berwarna hajau sebagai adsorbat. Adsorpsi bertujuan untuk mempelajari kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap glukosa yang terdapat pada sirup marjan dalam larutan.
Percobaan ekstraksi dilakukan dengan
cara memasukkan 50 mL aquades berupa larutan bening
yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk
mengukur volume cairan yaitu aquades
kedalam corong pisah yang berfungsi
memisahkan komponen- komponen dalam suatu campuran selang dua
fase pelarut dengan densitas berlainan yang tak campur.
Kemudian di tambahkan 30 mL minyak
goreng berupa larutan
berwarna kuning yang diukur menggunakan gelas ukur yang
berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu
minyak goreng. Lalu dihomogenkan berfungsi
untuk mencampurkan larutan
secara rata dan sempurna
dengan cara menggoyangkan tabung Erlenmeyer secara memutar. Selanjutnya didiamkan dan diamati dan menghasilkan dua
fase yaitu fase atas berupa minyak dan fase bawah berupa aquades. Kemudian
ditambahkan 10 mL sabun cair yang diukur
menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volome cairan yaitu sabun. Selanjutnya dihomogenkan dengan cara menggoyangkan tabung Erlenmeyer secara memutar. Lalu didiamkan dan diamati menghasilkan minyak dan aquades
setelah ditambahkan sabun akan
menyatu membentuk sistem emulsi berupa larutan berwarna hijau muda. Percobaan ini sesuai dengan
prinsip ekstraksi yang berdasarkan like
disolve like dimana senyawa
polar hanya akan larut di dalam senyawa
pelarut polar, sedangkan
senyawa non polar hanya akan
larut di dalam senyawa non polar dan perbandingan dari massa jenis. Ekstraksi bertujuan memisahkan satu atau beberapa
zat yang dapat larut dari suatu kesatuan
yang tidak dapat larut dengan
bantuan bahan pelarut.
Percobaan sublimasi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok naftalena berupa padatan berwarna putih yang telah digerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan kedalam cawan penguap yang berfungsi sebagai wadah atau tempat penguapan bahan dari bahan yang tidak mudah menguap, menggunakan spatula yang berfungsi untuk mangambil objek berupa naftalena. Selanjutnya ditambahkan dua dendok garam dapur berupa padatan berwarna putih dengan menggunakan spatula yang berfungsi untuk mengambil objek berupa garam dapur lalu ditutup dengan corong kaca yang telah diberi kertas saring dengan posisi terbalik yang berfungsi agar kristal (sublimat) yang terbentuk dapat menempel pada dinding corong. Kemudian disumbat corong kaca sengan tisu untuk mengurangi keluarnya uap dalam percobaan. Selanjutnya dipanaskan menggunakan hot plate yang berfungsi memanakan sekaligus mencampurkan larutan kimia. Lalu diamati menghasilkan kristal berwarna putih. Percobaan ini sesuai dengan prinsip sublimasi berdasarkan perbedaan titik didih, dimana suatu zat rendah maka zat tersebut akan lebih cepat megalami penyubliman dan zat yang lain tidak ikut menyublim. Sublimasi bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur ataupun elemen dalam suatu zat tertentu.
Adapun faktor kesalahan
dalam praktikum diantaranya sebagai berikut:
-
Penggunaan corong kaca yang
berukuran kecil dan kertas saring yang tidak menutupi seluruh permukaan
corong kaca dalam percobaan
sublimasi.
-
Penggunaan kertas saring
yang tebal mengakibatkan percobaan berlangsung cukup
lama.
-
Lamanya pemanasan dalam percobaan
sublimasi mengakibatkan hasil yang tidak maksimal.
1.
Penutup
5.1
Kesimpulan
-
Berdasarkan pada percobaan yang telah di lakukan pada uji dekantasi
diperoleh endapan pasir
pantai berwarna coklat.
-
Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan
pada uji sublimasi
diperoleh kristal halus pada kertas saring.
-
Berdasarkan pada percobaan yang telah di lakukan pada uji adsorpsi
diperoleh larutan berwarna hijau pucat.
5.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum
selanjutnya sirup marjan diganti dengan sirup ABC jeruk agar hasil yang diperoleh lebih bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyani, S dkk. 2020. Peningkatan Kualitas Keasaman (PH) Pada
Sumber Air Mineral Dengan Metode Penyaringan. Pontianak: Jurnal Borneo Akcaya.
Chandra, Muhamad. 2016. Pemurnian. Jurnal Kimia Fmipa UNNES.8 (1):26.
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta:
Erlangga.
Dwi. 2021. Pembelajaran. Pemisahan Dan Pemurnian Kimia
Dasar Menggunakan Augmented Reality (AR). Pekan Baru: Jurnal Kimia Dasar.
Fibrianto, Dian.Nur. 2008. Panduan Kimia Praktis. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Keenan. 1980. Kimia
Dasar Prinsip Dan Terapan.
Jakarta: Erlangga.
Kharismanto, B.,
Triandini, R., Trian, N.W., & Suprihatin, S. 2021. Pemurnian Kristal Garam Rakyat Menjadi Garam Industri
Dengan Alat Hidroeksteaktor. Surabaya. Chempro, 2 (02),24-30.
Labibah, F., dkk. 2020. Pemurnian
Zat. Medan: FST UINSU.
Petrucci, Ralp H. 1997. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan
Modern. Jakarta: Erlangga.
Sastrawidana, I Dewa
Ketuk. 2018. Buku Penuntun Praktikum
Metode Pemisahan. Buleleng: Universitas
Pendidikan Ganesha.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2018. Kimia Dasar. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Sari, Sri Adelila. 2019. Kimia Pemisahan.
Tanggerang: Tira Smart.
Sudjadi. 1998. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM.
Syukri,
S. 1999. Kimia Dasar 1.
Bandung: ITB.
Resni. 2013. Pemisahan Dan Pemurnian. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
November.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar