Kamis, 16 Maret 2023

Laporan Praktikum PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

1.    Tujuan

-       Untuk mengetahui hasil reaksi pasir pantai dengan aquades pada percobaan dekantasi.

-       Untuk mengetahui hasil reaksi naftalena dengan garam dapur pada percobaan sublimasi.

-       Untuk mengetahui hasil reaksi norit dengan sirup pada percobaan adsorpsi.

2.  Landasan Teori

Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara atau metode untuk memisahkan atau memurnikan suatu zat dari campurannya, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Pada dasarnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur sedangkan pemurnian dilakukan untuk memurnikan suatu zat yang tercemar oleh zat lain (Sastrawidana, 2018).

Pemurnian adalah suatu proses memurnikan suatu campuran untuk mendapatkan zat zat murni. Reaksi yang berfungsi pelarut dan katalisator dalam suatu reaksi untuk menghasilkan suhu senyawa yang dimaksud maka diperlukan pemisahan dan pemurnian. Oleh karena itu apabila ingin suatu hasil yang murni maka diperlukan proses pemurnian. Pemurnian dapat dilakukan dengan ekstraksi, filtrasi, sentrifugasi, rekristalisasi dan sublimasi (Chandra, 2016).

Ada tiga istilah yang harus dipahami dan diingat dalam ilmu kimia yaitu unsur, senyawa, dan campuran. Unsur adalah materi yang tidak dapat diuraikan dengan reaksi kimia menjadi zat yang lebih sederhana. Contohnya hidrogen, oksigen, besi, tembaga dan sebagainya (Syukri, 1999).

Senyawa adalah materi yang dibentuk dari dua zat atau lebih dengan perbandingan tertentu. Jadi senyawa masih bisa diuraikan menjadi unsur pembentukannya. Contohnya adalah air. Unsur dan senyawa disebut zat tunggal karena partikel terkecilnya satu macam (Syukri, 1999).

Campuran merupakan suatu materi yang dibuat dari penggabungan dua zat berlainan atau lebih menjadi suatu zat fisik. Tiap zat dalam campuran tetap mempertahankan sifat-sifat aslinya, yaitu campuran terbentuk tanpa melalui reaksi kimia, mempunyai sifat zat asalnya, terdiri dari dua jenis zat tunggal atau lebih, komposisinya tidak tetap. Zat atau materi dapat dipisah dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat (Sari, 2019).

Campuran terbagi menjadi dua yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran homogen (larutan) merupakan campuran unsur-unsur atau senyawa yang mempunyai susunan seragam dan juga merupakan penggabungan zat tunggal atau lebih yang semua partikelnya menyebar secara merata hingga membentuk satu fase. Campuran heterogen adalah campuran yang komponen-komponennya dapat memisahkan diri secara fisik karena perbedaan sifatnya dan penggabungan yang tidak merata antara dua zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan yang lainnya tidak sama, dan antara komponennya masih terdapat bidang batas dan dapat dibedakan menggunakan mata telanjang serta campuran memiliki dua fase, sehingga sifat-sifatnya tidak seragam (Petrucci, 1996).

Campuran yang digunakan untuk pemisahan dan pemurnian dapat digolongkan menjadi tiga yaitu larutan, koloid, dan suspense. Larutan adalah campuran homogen, suatu campuran dikatakan homogen jika antar komponennya tidak terdapat bidang batas sehingga terbedakan lagi walaupun dengan menggunakan mikroskop ultra sekalipun. Komponen larutan dibedakan atas pelarut dan zat terlarut. Proses pelarut di dipengaruhi oleh pengadukan atau jika zat terlarut lebih halus. Koloid adalah suatu campuran yang keberadaanya terletak antara larutan dan suspensi. Secara mikroskopis, koloid tampak homogen tetapi jika diamati dengan menggunakan mikroskop ultra maka akan tampak heterogen. Suspense adalah campuran dasar dan tampak heterogen antar komponennya masih terdapat bidng batas sehingga tidak terbedakan tanpa menggunakan mikroskop. Istilah suspense biasanya dimasukkan untuk campuran heterogen dan suatu zat padat dalam zat cair (Keenan, 1980).

Zat terlarut memiliki jumlah lebih sedikit dari zat pelarut dalam larutan, semua zat terlarut akan larut dalam air. Zat terlarut dibagi menjadi dua kelompok: elektrolit dan non elektrolit. Larutan adalah campuran homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang bercampur adalah zat terlarut dan pelarut (Chang, 2004).

Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak ditemui berbagai contoh campuran misalnya campuran air dengan minyak yang merupakan campuran heterogen. Campuran air dan gula yang merupakan campuran homogen (larutan). Campuran air yang sebagai pelarut dan pasir sebagai bahan pelarutnya yang merupakan contoh koloid. Campuran air sebagai pelarut dan kapur sebagai pelarutnya yang merupakan contoh suspense (Dwi, 2021).

Perbedaan agregasi (penampilan materi) seperti zat padat dan zat cair sangat mempengaruhi metode pemisahan dan pemurnian yang diperlukan, maka dapat dibedakan menjadi:

a.     Memisahkan zat padat dari suspense

b.     Memisahkan zat padat dari larutan

c.     Memisahkan campuran dan zat cair

d.     Rekristalisasi dan penyulingan

                                                                                                                        (Syukri, 1999).

Pemisahan campuran didasarkan pada perbedaan sifat pada campuran berbagai metode pemisahan diantaranya yaitu metode dekantasi, metode filtrasi, metode rekristalisasi, metode adsorpsi, metode ekstraksi dan metode sublimasi (Sudjadi, 1998).

Dekantasi merupakan proses pemisahan campuran larutan dan padatan yang paling sederhana, dalam prosedurnya hanya menuangkan cairan secara perlahan sehingga dibagian dasar bejana. Teknik ini dilakukan apabila endapan memiliki endapan yang lebih besar dan massa jenis yang lebih besar sehingga dapat terpisah dengan baik, salah satunya yaitu Sari jahe dan kencur yang dilarutkan dengan air sehingga terdapat endapan (Syukri, 1999).

Filtrasi atau penyaringan adalah suatu proses untuk menghasilkan zat padat tersuspensif yang diukur dengan kekeruhan air melalui media berpori. Penyaringan melalui media berpori berlangsung dengan cara menghambat patikel-partikel kedalam ruang pori sehingga terjadi pengumpulan dan tumpukan partikel tersebut pada permukaan butiran media (Ariyani, 2020).

Proses pemurnian garam dapat dilakukan dengan meninjau beberapa cara yaitu melalui perbaikan kualitas air laut sebagai bahan baku, perbaikan filtrasi produksi dan perbaikan hasil produksi (Garam yang dihasilkan). Peningkatan kualitas garam melalui garam yang sudah dihasilkan dapat dilakukan secara kimia dan fisika (Kharismanto dkk, 2021).

Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya dengan cara mengkristalisasi kembali zat tersebut setelah dilarutkan atau dilakukan dengan pelarut yang sesuai. Prinsip unsur yang digunakan yaitu perbedaan kelarutan rekristalisasi suatu zat dari metode yang paling ampuh untuk pemurnian zat padat didasarkan pada perbedaan antara kelarutan zat yang digunakan. Sebuah larutan mulai mendapatkan sebuah senyawa dalam rekristalisasi hingga pelarut tersebut mencapai titik jenuh terhadap senyawa tersebut (Labibah dkk, 2020).

Rekristalisasi adalah teknik klasik dalam pemurnian senyawa organik. terlalu banyak campuran senyawa organik tidak mudah dimurnikan dengan teknik rekristalisasi, dapat dilakukan dengan pengujian menguapkan pelarutnya. Jika padat berarti dapat direkristalisasi tetapi jika residunya cair, tidak dapat dimurnikan dengan rekristalisasi. Untuk alasan ini, bekerja di laboratorium kimia organik menggunakan pengetahuan yang luas tentang teknik pemurnian senyawa organik (Sitorus, 2012).

Adsorpsi merupakan suatu metode pemisahan untuk membersihkan suatu senyawa atau bahan dari pengotornya dengan cara penarikan atau penyerapan oleh bahan pengadsorpsi secara kuat sehingga zat pengotor tidak ikut larut dalam proses pemurnian melainkan menempel pada permukaan bahan pengadsorpsi (Sastrohamidjojo, 2018).

Ekstraksi merupakan metode pemisahan campuran zat atas dasar perbedaan pelarutan zat terlarut di dalam pelarut yang berbeda. Ekstraksi sering dilakukan untuk mengambil sari tumbuhan. Evaporasi merupakan metode yang digunakan untuk memisahkan zat padat terlarut dari larutannya. Evaporasi dilakukan dengan cara larutan di panaskan secara perlahan dengan uap air, selama pemanasan air akan menguap perlahan-lahan meninggalkan larutan sehingga terbentuk kristal sebagai residu (Fibrianto, 2008).

Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau dari gas ke padat. Bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu, maka partikel tersebut diturunkan akan menyublim menjadi gas. Dan sebaliknya jika suhu gas tersebut diturunkan maka gas akan segera berubah wujud menjadi padat. Syarat pemisahan partikel yang tercampur harus (perbedaan titik didih besar) (Labibah dkk, 2020).

Langkah-langkah pemisahan campuran dengan sublimasi menggunakan Teknik sederhana. Pemisahan campuran dengan sublimasi dibagi menjadi secara makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Makroskopik ditunjukkan dengan seperangkat peralatan sublumasi dan bahan-bahan yang diperlikan berupa pasir dan kapur barus. Mikroskopik berupa gambaran proses pemisahan pasir dan kapur barus melalui proses sublimasi. Dan simbolik digambarkan dengan adanya penyimpulan serbuk kapur barus berupa bulatan kuning dan hitam (Pratiwi, 2016).

Pada pemisahan zat padat yang terlarut dalam zat cair terdapat penguapan di mana pada penguapan larutan yang dipanaskan akan menguap dan meninggalkan zat terlarut dan kristalisasi merupakan pemisahan komponen-komponen dengan cara mengkristalkan dan dipanaskan kemudian didinginkan titik sedangkan pemisahan zat padat yang tidak larut dalam zat cair adalah dekantasi atau pengendapan dilakukan dengan cara diendapkan dan filtrasi yaitu suatu proses pemisahan dengan menggunakan penyaring. Pemisahan zat padat dari zat padat sama dengan pemisahan zat padat yang larut dalam zat cair namun pada pemisahan zat padat dari zat padat terdapat sublimasi dimana jenis padatan yang dapat menyublim dan jenis padat tidak dapat menyublim saling menyublim titik untuk pemisahan zat cair dari zat cair ada interaksi pelarut yaitu pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda (Resni, 2013).

Perubahan dari cair menjadi padat disebut pembekuan dan proses kebalikannya di sebut pelehan atau peleburan. Titik leleh normal suatu zat adalah titik leleh yang diukur pada tekanan suatu atm. Kesetimbangan cairan padat yang sangat dikenal adalah kesetimbangan air dan es energi yang dibutuhkan untuk melelehkan 1 mol disebut kalor peleburan molar (Sastrohamidjojo, 2018).


 

3.  Metodologi Percobaaan

3.1  Alat dan Bahan

3.1.1  Alat-alat:

-          Alu

-          Batang pengaduk

-          Bulp

-          Botol semprot

-          Cawan penguap

-          Corong gelas

-          Corong pisah

-          Gelas kimia

-          Gelas ukur

-          Gunting

-          Hot plate

-          Kanebo

-          Keranjang alat

-          Labu Erlenmeyer

-          Lumpang

-          Pipet ukur

-          Pipet tetes

-          Sikat tabung

-          Spatula

-          Tabung reaksi

3.1.2  Bahan-bahan:

-          Aquades

-          Aluminium foil

-          Garam dapur

-          Garam kotor

-          Kapur tulis warna-warni

-          Kertas label

-          Kertas saring

-          Minyak goreng

-          Naftalena

-          Norit

-          Pembersih meja

-          Pasir

-          Sabun cair

-          Sirup marjan

-          Spons

-          Tisu

-          Vaseline

3.2  Prosedur Percobaan

3.2.1  Dekantasi

-          Dimasukkan 3 sendok pasir ke dalam gelas beaker

-          Ditambahkan 50 mL aquades

-          Dihomogenkan

-          Didiamkan

-          Diamati

3.2.2  Filtrasi

-          Di masukkan 5 sendok kapur tulis yang telah di haluskan ke dalam gelas beaker

-          Ditambahkan 50 mL aquades

-          Dihomogenkan

-          Disaring menggunakan corong kaca yang telah di beri kertas saring

-          Diamati

3.2.3  Rekristalisasi

-          Dimasukkan 5 sendok garam kotor ke dalam gelas beaker

-          Ditambahkan 30 mL aquades

-          Dihomogenkan

-          Dipanaskan

-          Diamati

3.2.4  Adsorpsi

-          Dimasukkan 5 sendok norit ke dalam corong yang di beri kertas saring

-          Ditambahkan 30 mL sirup

-          Diamati

3.2.5  Ekstraksi

-          Dimasukkan 50 mL aquades ke dalam corong pisah

-          Ditambahkan 30 mL minyak goreng

-          Dihomogenkan

-          Didiamkan

-          Diamati

-          Ditambahkan 10 mL sabun cair

-          Dihomogenkan

-          Didiamkan

-          Diamati

3.2.6  Sublimasi

-          Dimasukkan 5 sendok naftalena yang telah di haluskan ke dalam cawan penguap

-          Ditambahkan 2 sendok garam dapur

-          Ditutup dengan corong kaca yang telah diberi kertas saring dengan posisi terbalik

-          Disumbat corong kaca dengan tisu

-          Dipanaskan

-          Diamati


 

4.  Hasil dan Pembahasan

4.1  Hasil Pengamatan

No

Perlakuan

Hasil Pengamatan

1.

Dekantasi

 

 

- Dimasukkan 5 sendok pasir kedalam gelas beaker.

- Pasir berupa padatan berwarna cokelat

sebagai sampel.

 

- Ditambahkan 50 mL aquades.

- Aquades berupa larutan bening.

 

- Dihomogenkan.

 

 

- Diamati.

- Terdapat endapan pasir pada permukaan gelas beaker dan dihasilkan larutan berwarna cokelat keruh.

2.

Filtrasi

 

 

- Dimasukan 5 sendok kapur tulis yang telah dihaluskan kedalam gelas beaker.

- Kapur tulis berupa serbuk berwarna merah muda.

 

- Ditambahkan 50 mL aquades

- Aquades berupa larutan bening.

 

- Dihomogenkan.

 

 

- Disaring menggunakan corong kaca.

 

 

- Diamati.

- Residu yang berupa kapur tulis akan bertahan di kertas saring dan dihasilkan filtrat berupa aquades yang lolos dari kertas saring berwarna larutan bening

sedikit keruh.

3.

Rekristalisasi

 

 

- Dimasukkan 5 sendok garam kotor kedalam gelas beaker.

- Garam kotor berupa padatan berwarna Putih.

 

- Ditambahkan 30 mL aquades.

- Aquades berupa larutan bening.

 

- Dihomogenkan.

 

 

- Dipanaskan.

 

 

- Diamati.

- Zat pengotor pada garam kotor akan berubah menjadi cairan dan menguap menjadi gas, sedangkan zat murni berupa garam yang lebih murni akan mengkristal kembali dan tertempel pada

gelas beaker.

4.

Adsorpsi

 

 

- Ditambahkan 5 sendok norit ke dalam corong yang diberi kertas saring.

- Norit berupa serbuk berwarna hitam.

 

- Ditambahkan 30 mL sirup.

- Sirup berupa cairan berwarna hijau pekat.

 

- Diamati

- Sirup yang tersaring berupa cairan berwarna hijau yang jauh lebih jernih.

5.

Ekstraksi

 

 

- Dimasukkan 50 mL aquades kedalam corong pisah.

- Aquades berupa larutan bening.

 

- Ditambahkan 30 mL minyak goreng.

- Minyak goreng berupa larutan kuning keemasan.

 

- Dihomogenkan.

 

 

- Didiamkan.

 

 

- Diamati.

- Terdapat dua fase dimana fase atas berupa minyak dan fase bawah berupa aquades.

 

- Ditambahkan 10 mLsabun cair.

- Sabun berupa larutan berwarna hijau.

 

- Dihomogenkan.

 

 

- Didiamkan.

 

 

- Diamati.

- Minyak dan aquades setelah ditambahkan minyak akan menyatu membentuk sistem emulsi berupa larutan berwarna putih.

6.

Sublimasi

 

 

- Dimasukkan 5 sendok naftalena yang telah di haluskan ke dalam cawan penguap.

- Naftalena berupa serbuk berwarna putih.

 

- Ditambahkan 3 sendok garam dapur.

- Garam dapur berupa padatan berwarna putih.

 

- Ditutup dengan corong kaca yang telah diberi kertas saring dengan posisi terbalik.

 

 

- Disumbat corong kaca dengan tisu.

 

 

- Dipanaskan.

 

 

- Diamati.

- Terjadi penyubliman dimana naftalena berubah wujud menjadi gas sehingga

yang tertinggal dicorong kaca adalah garam berbentuk kristal berwarna puih.

 

4.1  Pembahasan

Percobaan dekantasi dilakukan dengan cara memasukkan 3 sedok pasir yang berupa padatan berwarna coklat kedalam gelas beaker yang berfungsi sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan spatula yang berfungsi untuk mengambil objek berupa pasir. Kemudian ditambahkan 50 mL aquades berupa larutan bening, aquades diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades. Lalu dihomogenkan padatan pasir dan larutan aquades yang berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna dengan menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk mencampurkan bahan kimia. Dan didiamkan. Selanjutnya diamati dan menghasilkan larutan berwarna coklat keruh dan terdapat endapan. Percobaan ini sesuai dengan prinsip dekantasi yang berlaku berdasarkan dari perbedaan wujud zat dan massa jenis di dalam campuran sehingga menyebabkan massa jenis yang lebih besar berada pada bagian bawah atau terjadi pengendapan. Dekantasi bertujuan untuk memisahkan campuran larutan dan padatan dari campuran larutannya.

Percobaan filtrasi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok kapur tulis yang berupa padatan berwarna biru yang telah di gerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas beaker yang berfungsi sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan spatula yang berfungsi untuk mengambil objek berupa kapur tulis. Lalu ditambahkan 50 mL aquades berupa larutan bening, aquades diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades. Selanjutnya dihomogenkan padatan kapur tulis yang telah digerus dan larutan aquades yang berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna, dengan menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk mencampurkan bahan kimia. Kemudian disaring menggunakan corong kaca yang berfungsi sebagai alat untuk memindahkan larutan dari suatu wadah ke wadah yang lain, yang telah diberi kertas saring yang berfungsi memisahkan antara zat terlarut dari zat padat. Kemudian diamati sehingga menghasilkan larutan filtrat berwarna bening dan residu berupa campuran berwarna biru. Percobaan ini sesuai dengan prinsip filtrasi yang berlaku berdasarkan penyaringan ukuran partikel padat yang bercampur dalam larutan yang berarti hasil yang diperoleh dari hasil penyaringan bergantung pada ukuran pori-pori pada penyaringan yang di gunakan filtrasi bertujuan untuk memisahkan zat padat dan zat cair pada campuran sehingga dihasilkan zat murni

Percobaan rekristalisasi dilakukan degan cara memasukkan 5 sendok garam kotor berupa kristal berwarna putih kedalam gelas beaker yang berfungsi sebagai wadah mereaksikan bahan dengan menggunakan spatula yang berfugsi untuk mengambil objek berupa garam kotor kemudian ditambahkan 30 mL aquades berupa larutan bening, aquades diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades. Lalu dihomogenkan berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna dengan menggunakan batang pengaduk yang berfungsi untuk mencampurkan bahan kimia. Selanjutnya di panaskan menggunakan hot plate yang berfungsi memanaskan sekaligus mencampurkan larutan kimia. Selanjutnya diamati sehingga menghasilkan kristal berwarna putih. Percobaan ini sesuai dengan prinsip rekristalisasi yang berdasarkan perbedaan kelarutan antara zat yang akan di murnikan dengan zat pengotornya, karena konsentrasi total pengotor biasanya lebih kecil denga konsentrasi yang dimurnikan, dalam kondisi dingin konsentrasi zat pengotor yang rendah tetap dalam larutan sementara yang memiliki konsentrasi tinggi dan mengendap. Rekristalisasi bertujuan untuk mengetahui atau mendapatkan zat murni dari campuran tersebut.

Percobaan adsorpsi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok norit berupa padatan hitam yang telah digerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan kedalam corong kaca yang berfungsi sebagai alat untuk membantu memindahkan larutan dari suatu wadah ke wadah yang lain, yang telah diberi kertas saring yang berfungsi memisahkan antara zat terlarut dan zat padat dengan menggunakan spatula yang berfungsi mengambil objek berupa norit yang telah digerus, norit berfungsi menyerap partikel warna. Lalu ditambahkan 30 mL sirup marjan beupa larutan berwarna hijau yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu sirup marjan. Selanjutnya didiamkan dan kemudian diamati dan menghasilkan filtrat berupa sirup lebih jernih dan residu berupa padatan berwana hitam. Percobaan ini sesuai dengan prinsip adsorpsi yang berdasarkan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsi. Disini norit berfungsi sebagai karbon aktif dan sebagai adsorben, sedangkan sirup marjan yang berwarna hajau sebagai adsorbat. Adsorpsi bertujuan untuk mempelajari kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap glukosa yang terdapat pada sirup marjan dalam larutan.

Percobaan ekstraksi dilakukan dengan cara memasukkan 50 mL aquades berupa larutan bening yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu aquades kedalam corong pisah yang berfungsi memisahkan komponen- komponen dalam suatu campuran selang dua fase pelarut dengan densitas berlainan yang tak campur. Kemudian di tambahkan 30 mL minyak goreng berupa larutan berwarna kuning yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk mengukur volume cairan yaitu minyak goreng. Lalu dihomogenkan berfungsi untuk mencampurkan larutan secara rata dan sempurna dengan cara menggoyangkan tabung Erlenmeyer secara memutar. Selanjutnya didiamkan dan diamati dan menghasilkan dua fase yaitu fase atas berupa minyak dan fase bawah berupa aquades. Kemudian ditambahkan 10 mL sabun cair yang diukur menggunakan gelas ukur yang berfungsi untuk  mengukur volome cairan yaitu sabun. Selanjutnya dihomogenkan dengan cara menggoyangkan tabung Erlenmeyer secara memutar. Lalu didiamkan dan diamati menghasilkan minyak dan aquades setelah ditambahkan sabun akan menyatu membentuk sistem emulsi berupa larutan berwarna hijau muda. Percobaan ini sesuai dengan prinsip ekstraksi yang berdasarkan like disolve like dimana senyawa polar hanya akan larut di dalam senyawa pelarut polar, sedangkan senyawa non polar hanya akan larut di dalam senyawa non polar dan perbandingan dari massa jenis. Ekstraksi bertujuan memisahkan satu atau beberapa zat yang dapat larut dari suatu kesatuan yang tidak dapat larut dengan bantuan bahan pelarut.

Percobaan sublimasi dilakukan dengan cara memasukkan 5 sendok naftalena berupa padatan berwarna putih yang telah digerus menggunakan lumpang sebagai wadah untuk menghaluskan dan alu sebagai alat untuk menggerus bahan. Kemudian dimasukkan kedalam cawan penguap yang berfungsi sebagai wadah atau tempat penguapan bahan dari bahan yang tidak mudah menguap, menggunakan spatula yang berfungsi untuk mangambil objek berupa naftalena. Selanjutnya ditambahkan dua dendok garam dapur berupa padatan berwarna putih dengan menggunakan spatula yang berfungsi untuk mengambil objek berupa garam dapur lalu ditutup dengan corong kaca yang telah diberi kertas saring dengan posisi terbalik yang berfungsi agar kristal (sublimat) yang terbentuk dapat menempel pada dinding corong. Kemudian disumbat corong kaca sengan tisu untuk mengurangi keluarnya uap dalam percobaan. Selanjutnya dipanaskan menggunakan hot plate yang berfungsi memanakan sekaligus mencampurkan larutan kimia. Lalu diamati menghasilkan kristal berwarna putih. Percobaan ini sesuai dengan prinsip sublimasi berdasarkan perbedaan titik didih, dimana suatu zat rendah maka zat tersebut akan lebih cepat megalami penyubliman dan zat yang lain tidak ikut menyublim. Sublimasi bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur ataupun elemen dalam suatu zat tertentu.


Adapun faktor kesalahan dalam praktikum diantaranya sebagai berikut:

-   Penggunaan corong kaca yang berukuran kecil dan kertas saring yang tidak menutupi seluruh permukaan corong kaca dalam percobaan sublimasi.

-     Penggunaan kertas saring yang tebal mengakibatkan percobaan berlangsung cukup lama.

-   Lamanya pemanasan dalam percobaan sublimasi mengakibatkan hasil yang tidak maksimal.


 

1.  Penutup

5.1  Kesimpulan

-    Berdasarkan pada percobaan yang telah di lakukan pada uji dekantasi diperoleh endapan pasir pantai berwarna coklat.

-     Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan pada uji sublimasi diperoleh kristal halus pada kertas saring.

-     Berdasarkan pada percobaan yang telah di lakukan pada uji adsorpsi diperoleh larutan berwarna hijau pucat.

 

5.2  Saran

Sebaiknya pada praktikum selanjutnya sirup marjan diganti dengan sirup ABC jeruk agar hasil yang diperoleh lebih bervariasi.











DAFTAR PUSTAKA

 

Ariyani, S dkk. 2020. Peningkatan Kualitas Keasaman (PH) Pada Sumber Air Mineral Dengan Metode Penyaringan. Pontianak: Jurnal Borneo Akcaya.


Chandra, Muhamad. 2016. Pemurnian. Jurnal Kimia Fmipa UNNES.8 (1):26.


Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.


Dwi. 2021. Pembelajaran. Pemisahan Dan Pemurnian Kimia Dasar Menggunakan Augmented Reality (AR). Pekan Baru: Jurnal Kimia Dasar.


Fibrianto, Dian.Nur. 2008. Panduan Kimia Praktis. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.


Keenan. 1980. Kimia Dasar Prinsip Dan Terapan. Jakarta: Erlangga.


Kharismanto, B., Triandini, R., Trian, N.W., & Suprihatin, S. 2021. Pemurnian Kristal Garam Rakyat Menjadi Garam Industri Dengan Alat Hidroeksteaktor. Surabaya. Chempro, 2 (02),24-30.


Labibah, F., dkk. 2020. Pemurnian Zat. Medan: FST UINSU.

Petrucci, Ralp H. 1997. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta: Erlangga.

Sastrawidana, I Dewa Ketuk. 2018. Buku Penuntun Praktikum Metode Pemisahan. Buleleng: Universitas Pendidikan Ganesha.


Sastrohamidjojo, Hardjono. 2018. Kimia Dasar. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.


Sari, Sri Adelila. 2019. Kimia Pemisahan. Tanggerang: Tira Smart.


Sudjadi. 1998. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Fakultas Farmasi UGM.


Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB.

Resni. 2013. Pemisahan Dan Pemurnian. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar