SIFAT-SIFAT UNSUR
Tujuan Percobaan
-
Untuk mengetahui hasil reaksi antara
Sr(NO₃)₂ dengan H₃SO₄ pada uji kelarutan asam sulfat
-
Untuk mengetahui hasil reaksi antara
BaCl₂ dengan NaOH pada uji kelarutan garam hidroksida
-
Untuk mengetahui hasil
reaksi antara MgOH dengan Indikator
PP pada uji reaktifitas unsur
Landasan Teori
Unsur kimia adalah sebuah zat yang hanya
mengandung satu jenis atom. Unsur adalah suatu bahan murni yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron sebagai
pembentuk unsur. Unsur tersebut harus berkombinasi dahulu baru dapat membentuk senyawa
unsur kimia (Saraha, 2011).
Senyawa
kimia adalah zat kimia murni yang terdiri
dari dua atau beberapa unsur
yang dapat dipecah-
pecah lagi menjadi unsur - unsur pembentuknya dengan reaksi kimia yang
membentuknya. Contohnya, hidrogen monoksida adalah sebuah senyawa
yang terdiri dari dua atom hidrogen untuk
setiap atom oksigen
(Dwinata, 2016).
Tabel periodik unsur adalah tampilan
unsur - unsur dalam bentuk tabel. Unsur-unsur tersebut diatur berdasarkan struktur elektronnya sehingga sifat kimia unsur - unsur
tersebut berubah-ubah secara teratur sepanjang
tabel (Dwinata, 2016).
Unsur alkali merupakan golongan IA dalam
tabel periodik yang meliputi Li, Na, Rb, Cs clan Fr. Masing-masing menempati peringkat
ke-6 sebagai atom terbanyak pada kulit bumi.
Sifat-sifat logam alkali
yaitu konduktivitas tinggi, reaktif, elastisitas tinggi, berkilau
seperti perak, kepadatan rendah. Titik lebur
dan titik didih yang relatif
rendah dan elektronegatif rendah
(Dwinata, 2016).
Unsur alkali tanah merupakan golongan
IIA dalam tabel periodik yang meliputi Be, Mg, Ca, Sr, Ba, dan Ra masing-masing menempati peringkat
ke-5 dan ke-8 pada kulit bumi. Jika dibandingkan dengan unsur alkali (IA), unsur alkali tanah (IIA) memiliki sifat reduktor yang
lemah (Sulastri, 2017).
Unsur
alkali (IA) disimbolkan dengan ns1 memiliki
susunan reduktor kuat karena mudah melepaskan elektron pada kulit terluarnya.
Sedangkan unsur alkali tanah (IIA) yang disimbolkan ns² memiliki susunan elektron terluar yang sifatnya
sama dengan alkali yaitu bersifat
reduktor karena mudah
melepaskan elektron pada kulit
terluarnya (Sarana, 2017).
Logam alkali sifatnya pereduksi kuat,
semakin ke bawah sifat pereduksinya semakin kuat. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan bereaksi dengan
air yang semakin meningkat dari berilium ke barium, berilium tidak bereaksi
dengan air, magnesium
hanya bereaksi dengan air panas, sedangkan logam kalsium, Stronsium, barium dan radium mampu bereaksi dengan air (Sutresno, 2007).
Tiap logam memiliki konfigurasi elektron sama seperti gas mulia atau golongan VIII A. Setelah ditambah 2 elektron pada lapisan kulit paling luar. Contohnya konfigurasi elektron pada magnesium (Mg) yaitu 1s² 2s² 2p6 3s² atau (Ne) 3s². Ikatan yang dimiliki kebanyakan senyawa logam alkali tanah adalah ikatan ionik. Karena elektron paling luarnya telah siap untuk dilepaskan agar mencapai kestabilan (Sunarya, 2004).
Salah
satu hal yang harus bahwa setiap unsur
memiliki sifat yang khas berbeda
dengan unsur lainnya.
Pengelompokan unsur dalam 1 golongan dapat dibandingkan dengan
pengelompokkan makhluk hidup. Kesimpulan
sifat diantara unsur-unsur golongan pada beberapa golongan, golongan I (logam
alkali), golongan IIA (logam
alkali tanah), dan golongan IIIA (Sukartono, 1983)).
Sifat fisik logam alkali yaitu secara
umum logam alkali ditemukan dalam bentuk padat, kecuali cesium yang berbentuk cair. Logam alkali warna nyalanya logam.
Pada alkali sangat lunak, termasuk konduktor sangat baik (Sukartono, 1983).
Sifat-sifat logam alkali tanah, yaitu
memiliki konfigurasi, merupakan reduktor kuat, relatif lunak walaupun lebih keras dari golongan IA,
memiliki kerapatan dan titik yang tinggi. Keelektronegatifan golongan
ini relatif lebih rendah (Keenan, 1984).
Larutan H2SO4 memiliki sifat fisik yaitu berbentuk larutan padat yang memiliki titik
lebur 10°C, berbentuk larutan cair
seperti minyak maupun cairan kering dan terdapat unsur zat warna. Larutan H2SO4 memiliki sifat kimia,
yaitu mudah bereaksi dengan zat lain, berat asam dan dapat memanaskan garam, proses reaksi berupa
substansi, larutan NaOH memiliki sifat fisik, yaitu mudah terlarut
dalam air, memiliki
PH1, memiliki
massa Jenis 40 gram/mol. Larutan NaOH memiliki sifat kimia yaitu memiliki warna
putih dapat menyerap CO₂ pada ruangan, membentuk basa kuat jika larut
dalam air (Syukri, 1999).
Alasan bahwa perbedaan jenis oksida yang
terbentuk adalah ketika logam alkali bereaksi dengan oksigen haruslah berkaitan kestabilan oksida tersebut dalam
keadaan padat. Karena oksida ini seluruhnya adalah
senyawa ionik, kestabilannya bergantung pada seberapa kuat kation dan anion
saling tertarik satu sama lain.
Pembentukan oksida logam alkali yang lain dapat dijelaskan dengan cara yang
sama. sifat-sifat kalium dan
stronsium memberi suatu contoh menarik tentang kemiripan golongan dalam tabel
periodik stronsium -90. Suatu isotop
radioaktif, adalah produk utama dari ledakan bom atom. Senyawa litium lebih stabil
Jika dibandingkan dengan litium peroksida
(Chang, 2003).
Kata “alkali” berasal dari bahasa arab (القلي) yang berarti abu dikalsinasi (lihat kalsinasi), mengacu pada sumber asli zat alkali. Ekstrak abu dan tanaman yang terbakar, disebut potas dan sebagian besar terdiri dari kalium karbonat. Setelah pemanasan zat ini terjadi kalium hidroksida (kapur mati), zat lebih dikenal sebagai kalium kaustik. Secara tradisional kalium kaustik digunakan bersama dengan lemak hewani untuk menghasilkan sabun yang lembut. Proses pembuatan sabun dari lemak disebut proses saponifikasi yang dikenal sejak zaman dahulu. Tanaman kalium meminjamkan nama untuk unsur kalium yang pertama kali berasal dari kalium kaustik. Dalam sistem periodik unsur, unsur-unsur yang terletak pada golongan IA yaitu litium(Li), natrium(Na), kalium(K), rubidium(Rb), cesium(Cs) dan fransium (Fr) disebut logam alkali (Syamsidar, 2013).
Perlakuan kimia serat yang sering dilakukan perlakuan alkali seperti NaOH, karena lebih ekonomis. Uraian tersebut menunjukkan bahwa serat rami memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan di bidang rekayasa khususnya sebagai penguat bahan baru komposit. Sifat mekanis komposit tersebut dapat ditingkatkan dengan perlakuan alkali (NaOH) serat (Kuncoro, 2006).
Unsur-unsur golongan IIA disebut juga
alkali tanah sebab unsur-unsur tersebut bersifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah.
Logam alkali tanah umumnya reaktif, tetapi kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam alkali. Kalsium,
stronsium, barium, dan radium membentuk senyawa ion bermuatan +2. Magnesium
kadang-kadang bersifat kovalen
dan berilium lebih dominan kovalen
(Syamsidar, 2013).
Titik leleh dan titik didih logam alkali menurun dari atas ke bawah dalam sistem periodik. Hal ini disebabkan oleh jari-jari atom yang bertambah panjang. Energi ionisasi kedua dari unsur-unsur golongan IIA relatif rendah sehingga mudah membentuk kation +2. Adapun kalsium dan logam alkali tanah yang di bawahnya bereaksi dengan air pada suhu kamar. Reaksinya :
Ca(s) + 2H2O(l) → Ca(OH)2(aq) + H2(g) (Syamsidar, 2013).
Logam alkali merupakan kelompok unsur-unsur yang berada pada golongan IA pada tabel periodik unsur, yaitu litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr). Logam pada golongan IA disebut logam alkali dikarenakan oksida-oksida cepat larut dalam air serta menghasilkan larutan bersifat basa kuat (Chang, 2003).
Unsur-unsur pada golongan IA mempunyai satu elektron valensi yang per atom logam sehingga energi ikat dalam kisi kristalnya relatif lemah karenanya logam alkali bersifat lunak dan titik lelehnya rendah. Selain itu unsur-unsur alkali mempunyai satu elektron terakhirnya yang mengisi orbital n s dimana n dari 2 hingga 7. Fr (fransium) mempunyai isotop setidaknya ada 21 isotop yang dikenal dan 212Fr Merupakan isotop yang paling stabil dengan umur paro (t1/2 = 19 menit) karena hanya sedikit reaksi kimia Fr dikenal dan keberadaannya di alam tidak dijumpai lagi. Atom-atom unsur alkali mempunyai jari-jari atom terbesar dibandingkan atom lain yang terletak dalam satu periode, besarnya jari-jari atom tersebut akan menyebabkan rendahnya berat jenis-jenis unsur tersebut. Semua logam bebas dari unsur golongan I reaktif terhadap reaktan kimia kecuali N₂, reaktifitasnya meningkat dengan berkurangnya harga potensial ionisasi unsur-unsur tersebut. Litium bereaksi sangat lambat dengan air, dibandingkan dengan unsur alkali yang lainnya yang bereaksi dengan cepat (Sriatun, 2012).
Logam alkali tanah terdiri dari Be, Mg, Ca, Sr, Ba, dan Ra yang merupakan unsur-unsur IIA pada kabel periodik unsur. Mempunyai konfigurasi elektron yang mirip, dimana 2 elektron terakhir mengisi orbital terluar ns² dimana n dari 2 hingga 7. Sifat keelektropositifan unsur alkali tanah semakin meningkat dengan meningkatnya ukuran atom, Sehingga radium merupakan unsur yang keelektropositifannya lebih tinggi dan paling jonik. Adapun reaktifitasnya meningkat seiring bertambahnya ukuran atom. Secara umum logam alkali tanah dapat bereaksi dengan air membentuk hidroksida, hanya berilium dan magnesium yang tidak dapat bereaksi dengan air. Tingkat hidrolisis kation-kation golongan 2 lebih besar daripada logam golongan 1. Tingkat hidrolisis berkurang seiring meningkatnya nomor atom unsur dalam satu golongan, perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan rapat muatan dari kation-kation. Untuk unsur-unsur Ca, Sr, Ba, dan Ra membutuhkan energi yang relatif sedikit untuk oksidasi dan reaksi-reaksinya biasanya melibatkan pembentukan ikatan ionik. Untuk Be jumlah energi ionisasi pertama dan keduanya sangat besar, karena pelepasan dua elektron kurang mungkin sehingga Be lebih mudah membentuk ikatan kovalen (Sriatun, 2012).
Sistem periodik adalah susunan berkala
yang menggambarkan suatu letak, keadaan periodik, dan golongan dari unsur-unsur kimia yang disusun
berdasarkan kenaikan atom. Sistem periodik
dibagi menjadí periode, yaitu unsur-unsur yang terletak
dalam baris yang horizontal dan golongan yaitu unsur-unsur yang terletak dalam kolongan vertikal
(Basri, 2003).
Setiap unsur memiliki sifat yang khas berbeda
dari unsur lainnya.
Pengelompokkan unsur dalam
suatu golongan dapat
dibandingkan dengan pengelompokkan makhluk hidup. Sifat fisik logam alkali
yaitu umumnya berupa padatan kecuali
cesium yang berbentuk cair. Logam alkali memiliki warna nyala logam dan termasuk konduktor yang sangat baik. Sifat logam alkali yaitu ketika bereaksi, air alkana menghasilkan gas hidrogen dan logam hidroksida yang dihasilkan merupakan
basa kuat, reaksi yang dihasilkan merupakan reaksi elektron, reaksi dengan hidrogen akan membentuk
senyawa hibrida yang memiliki bilangan oksidasi
-1 (Sukartono, 1983).
Sifat-sifat logam alkali tanah, yaitu memiliki
konfigurasi, merupakan reduktor
kuat, relatif lunak dan lebih keras dari golongan IA, memiliki
kerapatan dan titik yang lebih tinggi, keelektronegatifan golongan ini relatif
lebih rendah (Keenan, 1984).
Sifat kimia golongan alkali tanah, yaitu
natrium merupakan konduktor terkuat, klorin merupakan oksidator terbuat sangat reaktif
hingga mudah terbakar oleh oksigen,
mudah bereaksi dengan asam, membentuk
garam dan gas hidrogen (Keenan, 1984).
Unsur alkali terdiri dari Li, Na, K, Rb,
Cs, dan Fr. Unsur ini memiliki susunan reduktor yang kuat karena mudah melepaskan satu elektron pada kulit yang disimbolkan dengan
lambang ns². Sedangkan
unsur elektron terluar ns²
sama dengan alkali yaitu reduktor kuat karena mudah melepaskan dua elektron
pada kulit terluarnya disebut
dengan Alkali tanah yang terdiri dari
Be, Mg, Ca, Sr, Ba, dan Ra (Sulastri, 2017).
Larutan H2So4 memiliki sifat fisik berbentuk larutan padat yang memiliki titik lebur 10°C, berbentuk larutan cair seperti minyak maupun cairan kering dan terdapat unsur zat warna. larutan H₂SO4 mudah bereaksi dengan zat lain, berasam kuat dan dapat menghasilkan garam. Sedangkan larutan NaOH memiliki PH1, mudah larut dalam air, memiliki warna putih yang dapat menyerap CO₂ pada ruangan, berbentuk basa kuat jika larut dalam air (Syukri, 1999).
Unsur alkali merupakan golongan 1A dalam
tabel periodik yang meliputi Li, Na, K, Rb, Cs dan Fr masing-masing menempati peringkat ke-6 dan ke-7 sebagai atom
terbanyak pada kulit bumi. Sifat-sifat logam
alkali yaitu konduktivitas tinggi, reaktif, elastisitas tinggi, berkilau
seperti perak, kepadatan rendah, titik lebur dan
titik didih yang relatif rendah dan elektronegatif rendah (Sulastri, 2017).
Unsur alkali tanah merupakan golongan
IIA dalam tabel periodik yang meliputi Be, Mg, Ca, Sr, Ba dan Ra, masing-masing menempati peringkat
ke-5 dan ke-8 pada kulit bumi. Jika dibandingkan dengan unsur alkali (IA), unsur alkali tanah (IIA)
memiliki sifat reduktor yang lebih lemah (Sulastri,
2017).
Unsur
pada alkali (IA) memiliki susunan
reduktor kuat karena
mudah melepaskan satu elektron pada
kulit terluarnya yang disimbolkan dengan ns1. Sedangkan pada
unsur alkali tanah (IIA) Memiliki susunan elektron
terluar ns² yang sama halnya dengan alkali yaitu bersifat reduktor karena mudah
melepaskan dua elektron pada kulit
terluarnya (Saraha, 2017).
Reaksi pada unsur alkali yaitu gas H₂
yang terbentuk akan segera terbakar dan dan menyala yang disertai dengan ledakan.
Indikator fenolftalein dapat mendeteksi hidroksida (MOH). Sedangkan logam pada alkali
tanah dapat bereaksi
dengan air dingin.
Mg bereaksi dengan air panas walaupun reaksinya
kecil, dan berilium
tidak dapat bereaksi dengan air mendidih (Yusuf, 2018).
Logam alkali bersifat pereduksi kuat,
semakin kebawah sifat produksinya semakin kuat. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan bereaksi dengan air yang semakin
meningkat dari berilium ke barium. Berilium
tidak bereaksi dengan
air, magnesium hanya bereaksi dengan air panas,
sedangkan logam kalsium,
stronsium, barium dan radium mampu bereaksi dengan air dingin. Reaksi
alkali tanah dengan air sebagai berikut:
L(S) + 2H₂O(l) → L(OH)2 (aq) + H₂(g)
Alkali tanah air basa gas hidrogen
(Sutresna, 2007).
Sifat-sifat unsur bergantung pada
struktur elektron dari suatu atom, struktur tersebut tidak hanya menentukan bagaimana unsur tersebut dapat
mengikat unsur lain, tetapi juga dapat mengikat sesamanya. Untuk memudahkan memahami sifat-sifat
unsur maka dibentuklah tabel sistem periodik untuk menyusun dan mengklasifikasi unsur-unsur, dimana
unsur-unsur yang mirip sifatnya diletakkan pada kelompok yang sama
(Syamsidar, 2013).
Adapun golongan IA (alkali) yang mengacu pada sumber asli zat alkali. Unsur-unsur yang terletak pada golongan IA yaitu litium (Li), natrium (Na), kalium (K), rubidium (Rb), cesium (Cs) dan fransium (Fr) yang disebut logam alkali. Pada golongan alkali hidrogen termasuk nonlogam walaupun dengan alkali sama-sama memiliki satu elektron pada kulit terluarnya. Berdasarkan konfigurasi elektron diketahui semua unsur alkali memiliki 1 elektron yang terletak pada kulit terluar. Persamaan ini menyebabkan unsur-unsur alkali memiliki sifat yang mirip. Walaupun memiliki sifat yang mirip tetapi unsur-unsur alkali keberadaan di alam tidak bersama-sama. Hal ini disebabkan oleh ukuran - ukuran ion alkali yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya (Syamsidar, 2013).
Sifat fisika pada golongan IA (alkali),
unsur-unsur alkali memiliki kilap keperakan logam yang khas pada permukaan baru dipotong (tetapi ini
cepat menghitam setelah bersinggungan dengan udara). Unsur- unsur ini juga memiliki daya hantar
(konduktivitas) listrik dan panas yang tinggi, yang merupakan sifat khas logam. Pipa yang diisi natrium
digunakan untuk penghantar listrik yang pendek.
Natrium yang meleleh
digunakan sebagai fluida pentransfer panas dalam beberapa reaktor
nuklir. Daya hantar panas dan daya hantar listrik unsur-unsur logam alkali berkurang dari Li ke
Cs (Fitri, 2019).
Struktur kristal logam alkali adalah kubus berpusat badan (bcc=body-centered-cubic). Beberapa
sifat yang tak biasa terdapat
pada logam adalah
titik lelehnya yang relatif rendah,
massa jenis yang relatif rendah,
dan kelunakannya. Ketiga sifat terutama khas bagi unsur-unsur alkali
memiliki jari-jari atom terbesar bila dibandingkan dengan unsur lain yang terletak dalam
satu periode (Fitri, 2019).
Massa jenis logam alkali tidak normal. Sebagian besar logam memiliki massa jenis antara 5 hingga 15 gcm-³, tetapi massa jenis logam alkali sangat berbeda. Faktanya litium memiliki massa jenis setengah dan massa jenis air. Umumnya, logam alkali disimpan dalam minyak karena bila terkena udara akan terbentuk lapisan oksida yang menutupi kilap logam dengan sangat cepat. Sebagai contoh, litium teroksidasi menjadi litium oksida, yang akan bereaksi dengan karbon dioksida menghasilkan litium karbonat.
4Li(s) + O₂ (g) → 2LiO(s)
Li2O(l) + CO₂ (g) → Li2CO3(s)
(Fitri, 2019).
Sifat
kimia pada golongan
alkali, logam alkali
merupakan unsur logam
yang sangat reaktif
dibanding logam golongan
lain. Hal ini disebabkan pada kulit terluarnya hanya terdapat satu elektron dan
energi ionisasi yang lebih kecil
dibanding unsur golongan lain. Dalam
satu golongan, dari atas ke bawah, kereaktifan logam alkali makin bertambah seiring bertambahnya nomor atom (Syamsidar, 2013).
Adapun golongan IIA (alkali tanah),
disebut alkali tanah karena unsur-unsur tersebut bersifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah.
Logam alkali tanah umumnya reaktif, tetapi kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam alkali. Di
alam unsur - unsur alkali tanah terdapat dalam bentuk senyawa (Sumarno, Ratnawati, Nugroho, 2012).
Sifat-sifat alkali tanah sebelumnya adapun unsur-unsur yang termasuk golongan tanah yaitu Berilium (Be), Magnesium (Mg), Kalium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba) dan Radium (Ra). Sehingga kita dapat menentukan sifat-sifat alkali tanah, yaitu kekerasan logam alkali tanah berkurang dari atas ke bawah akibat kekuatan ikatan antar atom menurun. Hal ini disebabkan jarak antar atom pada logam alkali tanah bertambah panjang. Berilium merupakan logam berwarna abu dan kekerasannya mirip dengan besi, serta cukup kuat untuk menggores kaca. Logam alkali tanah lainnya umumnya berwarna perak dan lebih lunak dari berilium, tetapi lebih keras jika dibanding dengan logam alkali (Syamsidar, 2013).
Energi ionisasi kedua dari unsur-unsur
golongan IIA relatif rendah sehingga mudah membentuk kation +2. Akibatnya, unsur-unsur сukuр reaktif.
Kereaktifan logam alkali meningkat dari atas ke bawah dalam sistem periodik.
Adapun kalsium dan logam alkali
tanah yang dibawahnya bereaksi dengan air pada suhu kamar,
reaksinya:
Ca(s) + 2H₂O(l) → Ca(OH)2 (aq) + H₂ (g)
(Syamsidar, 2013).
Logam alkali bereaksi dengan oksigen
membentuk oksida. Barium dapat membentuk peroksida. Barium peroksida terbentuk
pada suhu rendah
dan terurai menjadi oksida pada 700°C
(Syamsidar, 2013).
Sistem periodik adalah susunan berkala
yang menggambarkan suatu letak, keadaan, periode dan golongan dari unsur-unsur kimia. Sistem periodik disusun
berdasarkan kenaikan atom masing-masing unsur. Sistem
periodik dibagi menjadi
periode, yaitu unsur-unsur yang terletak dalam baris yang horizontal (mendatar) dan golongan yaitu unsur yang
terletak dalam baris vertikal
(Anipah et al., 2020).
Unsur-unsur alkali dan alkali tanah
merupakan logam-logam yang sangat reaktif, hal ini disebabkan oleh alkali dan alkali tanah
masing-masing mempunyai satu dan dua elektron di kulit terluar. Maka tidak asing mengapa kemudian unsur-unsur
golongan IA dan IIA ini tidak ditemukan dialam dalam keadaan bebas. Pada kulit bumi mereka terdapat
dalam wujud bijih - bijih oksida, karbonat atau sulfida (Erlina et al., 2018).
Logam-logam alkali memiliki beberapa
sifat yaitu lunak, boleh mengikat dan boleh dipotong. Jika logam-logam tersebut diudara terbuka maka
pemuaiannya akan menjadi kusam, karena logam-logam mudah bereaksi dengan air dan oksigen, dan biasanya disimpan
dalam minyak tanah. Logam-logam alkali tanah
mudah dipotong dan tampak mengikat jika dipotong serta cepat rusak jika di
udara, reaktivitasnya terhadap air
berbeda-beda. Unsur-unsur logam alkali dibuat dengan jalan elektrolisis cairan
garamnya, misalnya natrium
diperoleh dengan cara elektrolisis lelehan
NaCl dengan pemisahan
CaCl₂ untuk menurunkan titik
leleh CaCl2 (Nadeak &
Oediyani, 2017).
Logam-logam alkali dikhususkan pada logam Li, Na, K, Rb, dan Cs dengan konfigurasi elektron terluar (ns1, n≥2). Logam alkali mempunyai energi ionisası rendah dan cenderung kuat melepaskan elektron valensinya tunggalnya, cukup reaktif sehingga jarak ditemukan secara bebas dialam. Logam alkali dapat bereaksi dengan air membentuk hidroksida, logam alkali dengan melepaskan gas hidrogen, dapat membentuk oksida, peroksida, bahkan superoksida yang ketiganya menghilangkan bentuk kilapan logamnya. Selain litium yang hanya dapat membentuk oksida, maka logam alkali yang lain dapat membentuk peroksida dan untuk K, Rb, dan Cs dapat pula membentuk superoksida logam alkali, adanya reaktifitas logam alkali dengan Cucl dan meningkat dari atas ke bawah dalam golongannya (Erlina et al., 2018).
Unsur
(element) adalah suatu
zat yang tidak dapat dipisahkan lagi menjadi zat yang lebih sederhana
dengan cara kimia. Saat ini sebanyak 113 unsur telah diidentifikasi. 83
diantaranya terdapat secara alami di bumi, sisanya telah dibuat oleh ilmuwan (Chang, 2003).
Dalam tabel periodik terdiri dari
periode dan golongan. unsur golongan utama yaitu IA-VIIIA, diantaranya golongan alkali dan alkali tanah (Parning, 2007).
Logam alkali merupakan logam yang
memiliki kereaktifan yang sangat tinggi dari atas ke bawah dalam satu golongan. Unsur dalam
golongan ini meliputi unsur litium, natrium, kalium, rubidium, sesium, dan fransium. Atom-atom logam
alkali berikatan satu sama lainnya dengan ikatan logam. Kekuatan ikatan logam
dipengaruhi oleh rapat muatan ion positif dan rapat muatan
awan elektron. Meski muatan
ion positif dan muatan awan elektron dari unsur - unsur logam alkali sama,
namun jari - jari atom bertambah dari
atas kebawah dalam satu golongan yang menyebabkan rapat muatan ion positif dan rapat muatan awan elektron berkurang
sehingga tarik - menarik ion-ion positif dan rapat muatan awan elektron
semakin lemah (Fitri, 2019).
Logam alkali tanah merupakan logam yang memiliki kereaktifan yang rendah dari golongan alkali dan golongan ini bersifat basa (Rizal, 2007).
Unsur (element) diidentifikasi dari sifat-sifat dan susunannya, yaitu sifat fisika dan sifat kimia. Sifat fisika, yaitu dapat diukur dan diamati tanpa mengubah susunan atau identitas suatu zat. Sifat kimia, yaitu sifat yang menggambarkan kemampuan suatu materi untuk melakukan reaksi kimia (Chang, 2003).
Sifat fisika pada golongan alkali diantaranya; memiliki jari-jari atom bertambah, massa jenis bertambah, titik didih dan titik leleh berkurang, energi ionisasi berkurang dan potensial elektrode bertambah dari litium- fransium, tetapi potensial elektrode tidak berlaku pada litium (Fitri, 2019).
Sifat kimia pada golongan alkali diantaranya :
- Kereaktifan pada logam alkali yaitu kalium di reaksi dengan air maka akan terbakar, karena kalium lebih reaktif dibanding unsur yang lain.
- Senyawa logam alkali bersifat ionik dan mudah larut dalam air.
- Reaksi logam alkali.
(Rizal, 2007).
Sifat fisika pada golongan alkali tanah diantaranya; jari-jari atom bertambah, massa jenis bertambah, leleh dan titik didih berkurang, energi ionisasi berkurang, dan potensial elektroda bertambah dari berilium- radium, tetapi potensial elektroda tidak berlaku pada Be dan Mg (Rizal, 2007).
Sifat kimia pada golongan alkali tanah diantaranya :
-
Kereaktifan pada golongan alkali tanah cenderung meningkat.
-
Senyawanya bersifat ionik (Ca, Sr, Ba) dan kovalen (Be dan Mg).
- Reaksi logam alkali tanah (M)
- Reaksi dengan asam :𝑀 + 2𝐻+ → 𝑀+ + 𝐻2
- Reaksi dengan amonia dengan katalis
𝑀 + 2𝑁𝐻2 → 𝑀(𝑁𝐻2)2 + 𝐻2
- Reaksi antara logam alkali dan oksigen
2𝑀 + 𝑂2 → 2𝑀𝑂
- Reaksi dengan unsur-unsur halogen
𝐻2𝑀 + 𝑥2 → 𝑀𝑥2
(Fitri, 2019).
Salah satu hal yang harus disadari bahwa
setiap unsur memiliki sifat khas berbeda dari unsur lainnya. Pengelompokan unsur dalam satu golongan dapat dibandingkan dengan pengelompokan makhluk
hidup. Kesimpulan sifat diantara unsur - unsur segolongan pada beberapa golongan, golongan IA ( logam alkali), golongan IIA ( golongan alkali tanah),
dan golongan IIIA ( Sukartono, 1983).
Golongan IA atau biasa dikenal dengan
unsur alkali merupakan unsur-unsur yang mempunyai susunan elektron pada kulit terluar ns1
dan merupakan reduktor terkuat. Dikatakan reduktor terkuat karena pada golongan
IA semua unsur
mudah melepaskan 1 elektron pada kulit terluarnya. Unsur alkali meliputi
litium(Li), natrium(Na), kalium(K), rubidium(Rb), cesium(Cs), dan fransium(Fr). Natrium
dan kalium merupakan unsur
paling banyak ditemukan di alam dengan peringkat ke-6 dan ke-7 atom terbanyak pada kulit bumi. Sedangkan unsur
paling sedikit yang ditemukan adalah fransium karena fransium bersifat
radioaktif yang cepat berubah
menjadi unsur lain (Ahmad, 2020).
Unsur golongan IA memiliki titik leleh
yang cukup rendah dan lunak, yang mengakibatkan unsur alkali dapat diiris
dengan pisau. Logam pada golongan
IA dinamakan logam alkali karena
oksida-oksida pada golongan
ini cepat terlarut dalam udara sehingga menghasilkan larutan basa kuat. Logam
alkali dapat bereaksi dengan udara sehingga terbentuknya hidroksida alkali dimana
logam ini melepaskan gas hidrogen dan
membentuk oksida, peroksida dan superoksida. Logam litium hanya dapat membentuk oksida sedangkan logam lainnya dapat
membentuk ferioksida (untuk Kalium dan Rubidium) dan superoksida (untuk
cesium) (Bahrun, 2014).
Dalam satu golongan, dari litium sampai cesium jari - jari atom tidak bertambah dan letak elektron valensinya pun semakin jauh. Hal ini dapat mengakibatkan kekuatan tarik menarik antara inti atom dan elektron valensi semakin meningkat dan energi ionisasi dari litium sampai cesium semakin menurun (Nurokhim, 2020).
Unsur golongan IIA disebut alkali tanah karena unsur-unsur ini dapat membentuk basa namun kurang larut dalam air. Alkali tanah pada umumnya berbentuk deposit atau endapan dalam tanah. Unsur- unsur yang termasuk dalam golongan IIA adalah berilium (Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca), stronsium (Sr), barium (Ba), dan radium (Ra). Logam alkali tanah tergolong reaktif namun kereaktifannya kurang jika dilihat dari periodenya. Mempunyai susunan elektron terluar ns2 dan bersifat reduktor sama seperti golongan IA. Namun pada golongan IIA ini mudah melepaskan 2 elektron pada kulit terluarnya dan reduktornya lebih lemah (Bahrum, 2014).
Logam - logam alkali tanah dapat
bereaksi dengan air dingin. Mg sedikit bereaksi dengan air panas, sedangkan berilium jika direaksikan
dengan air mendidih tetap tidak bereaksi, hanya hidroksida hidroksida nya sedikit larut dalam air
sehingga kelarutannya bertambah dari atas ke bawah. Demikian pula sebaliknya untuk garam sulfat
dari atas ke bawah semakin
kecil atau berkurang (Ahmad, 2020).
Unsur-unsur alkali golongan IA dalam
tabel periodik dan alkali tanah golongan IIA tergolong logam yang aktif, namun alkali lebih reaktif dibandingkan dengan
alkali tanah. Unsur IA terdiri dari Na, K, Rb, H, Li, Cs, Fr. Kelima dari
unsur-unsur tersebut merupakan unsur periodik kecuali H (hidrogen) karena cenderung melepaskan elektron. Oleh karena itu
unsur ini bersifat logam yang oksidasinya
dapat membentuk larutan basa (alkali) dalam air. Logam ini bersifat sebagai
penghantar panas dan listrik,
memiliki titik lebur yang relatif lebih rendah dari logam lain sehingga
menyebabkan logam ini hanya dapat
melepaskan satu elektron dan ikatan logam dalam kaitannya lemah (Syamsidar, 2013).
Logam
alkali terdapat melimpah
di laut dalam
bentuk mineral, dan natrium yang terdapat di kerak bumi. Unsur-unsur alkali memiliki kilap
keperakan logam yang khas pada permukaan yang baru dipotong. Unsur-unsur pada golongan ini memiliki konduktivitas atau daya hantar listrik dan panas yang tinggi,
massa jenis pada logam alkali berbeda dengan lainnya atau tidak normal karena
sebagian besar memiliki massa jenis 5
hingga 15 g/cm−3
unsur-unsur ini memiliki susunan elektron pada kulit
terluar ns1 dan merupakan reduktor
kuat karena mudah melepaskan suatu elektron pada kulit terluarnya (Zarlaida, 2020).
Logam alkali tanah golongan
IIA terdiri atas berilium (Br), magnesium(Mg), kalsium(Ca), stronsium(Sr), barium(Ba), radium(Ra). Unsur IIA umumnya ditemukan dalam tanah berupa
senyawa tidak larut sehingga disebut
alkali tanah. Logam ini memiliki sifat kimia yang hampir sama dengan logam alkali, tetapi logam alkali tanah
kurang reaktif dari logam alkali periode dan unsur golongan ini bersifat
basa sama dengan
unsur golongan alkali
namun tingkat kebahasaannya lebih lemah (Syamsidar, 2013).
Titik didih dan titik leleh logam alkali tanah lebih tinggi daripada suhu ruangan. Oleh karena itu, untuk berwujud di suhu ruangan. Alkali tanah termasuk logam yang mudah bereaksi dengan unsur nonlogam. Selain dengan air, unsur logam alkali tanah dapat bereaksi dengan gas oksigen, halogen, dan nitrogen (Lovise, 2014).
Pada
percobaan ini akan melihat reaktivitas unsur-unsur dengan mereaksikan atau mencampurkan larutan dari sampel yang sudah
ditentukan. Pada tabel sistem periodik unsur terdapat VIII golongan A. A dalam golongan IA terdapat Na, Li, K, Rb, H, Cs, Fr yaitu natrium,
litium, kalium, rubidium,
hidrogen, cesium, dan
fransium. Dalam kehidupan sehari-hari fransium jarang ditemukan sebab fransium
mudah berubah menjadi unsur lain
karena radioaktifnya. golongan IIA terdapat Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Rd yaitu berilium, magnesium, kalsium, stronsium,
barium dan radium. Dalam kehidupan sehari - hari radium jarang ditemukan
(Bahrun, 2014).
Maka dari pembahasan di atas akan dilakukan percobaan pada tiga jenis larutan yakni H2SO4, HCl dan NaOH untuk mengetahui kereaktifan unsur nya dan pada
akhirnya akan dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Hidroksida pada golongan
IIA hanya sedikit
larut dalam air dan larutannya akan bertambah dari
atas ke bawah. sedang golongan IA sama dengan golongan IIA yang bertambah dari atas ke bawah dan bersifat
reduktor karena golongan
IA mudah melepas
elektron pada kulit terluar kulit
nya. Reaktivitas unsurnya semakin kebawah semakin bertambah. Sifat logam
alkali ketika bereaksi dengan alkana akan menghasilkan gas hidrogen dalam bentuk padat dan logam hidroksida yang dihasilkan
reaksi elektron dan basa kuat. Sifat logam alkali tanah memiliki konfigurasi,
memiliki kerapatan yang tinggi dan keelektronegatifannya rendah.
Logam alkali dapat berpotongan dan mengikat serta setiap unsur memiliki sifat yang
berbeda-beda. Dalam golongan - golongan dapat dikelompokkan seperti
ekosistem dan makhluk hidup (Mr.Phobos, 2020).
Golongan IA disebut
alkali karena di dalam golongan
IA oksidanya cepat larut dan larutan tersebut
bersifat basa. Sedangkan logam atau golongan IIA disebut alkali tanah karena golongan IIA ini dapat membentuk basa, tapi golongan IIA ini tidak mudah larut di dalam air. Ciri
khas dari logam alkali dan alkali tanah yaitu karena
adanya keaktifan antara
dua logam ini yang besar,
karena logam-logam ini aktif (Ika,
2014).
Logam alkali tanah merupakan unsur golongan
yang bersifat basa, sama seperti unsur golongan alkali, namun tingkat keberadaannya lebih lemah. Logam alkali
tanah memiliki jari - jari atom yang besar
dan harga energi ionisasinya kecil, maka dari itu atom-atom unsur golongan
alkali tanah mudah melepaskan. mudah melepaskan elektron yang artinya
golongan ini mudah mengalami oksidasi
sehingga unsur ini bersifat
pereduksi kuat, akan tetapi karena elektron valensinya terdiri atas dua
elektron sifat pereduksinya tidak
sekuat unsur golongan alkali yang memiliki 1 elektron valensi. Hal ini dapat
dilihat dari gejala reaksinya dengan
air yang tidak sekuat unsur golongan alkali (Tifani, 2013).
Unsur golongan alkali bersifat sangat reaktif sehingga tidak ditemukan dalam keadaan bebas. Senyawa-senyawa stabil, jadi praktis. Logam-logam alkali merupakan reduktor yang paling kuat, sehingga ekstraksi nya tidak dapat dilakukan dengan cara mereduksi oksidanya. Logam alkali sangat mudah bereaksi dengan air sehingga untuk mendapatkan logam alkali dengan elektrolisis larutan ion dalam air tidak mungkin kecuali bila digunakan katoda air raksa dan akan diperoleh logam alkali dalam bentuk amalgam, tetapi kondisi ini sangat sulit untuk didapatkan (Fitri, 2019).
Unsur - unsur golongan IIA dinamakan
alkali tanah karena unsur - unsur itu bersifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah. logam alkali tanah umumnya
bersifat reaktif, tetapi kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam logam alkali (Sunarya, 2007).
Logam alkali bersifat pereduksi kuat, semakin ke bawah sifat pereduksinya
semakin kuat. Maka hal ini
ditunjukkan oleh kemampuan bereaksi dengan air yang semakin meningkat dari
berilium ke barium. Berilium tidak
bereaksi dengan air, magnesium hanya bereaksi dengan air panas, sedangkan logam kalsium, stronsium, barium dan
radium mampu bereaksi dengan air dingin. Reaksi logam alkali tanah dengan air berlangsung sebagai berikut :
L(s) + 2H2O(l) → L(OH)2(aq) + H2(g)
(Sutresna, 2007).
Berdasarkan kelimpahan unsur di alam
semesta hidrogen merupakan unsur dengan kelimpahan terbesar sekitar ± 76% berat, kemudian dilanjutkan dengan helium sekitar
± 23% berat, sedangkan unsur-
unsur lainnya secara keseluruhan hanya memiliki tidak lebih dari 1%
berat, selain hidrogen dan helium hanya
terdapat 8 unsur yang memiliki kelimpahan cukup besar diantaranya adalah C, N,
O, Mg, Ne, Si,S dan Fe. Unsur-unsur ini memiliki nomor
atom kecil < 27 (Suryanta, 2019).
Kelimpahan unsur sendiri dapat berkurang
secara eksponensial dengan menaikkan nomor atom, hingga nomor atom 40. Selain itu perubahan kelimpahan sangat
kecil. Untuk kelimpahan litium, berilium,
dan boron jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kecenderungan kelimpahan
unsur-unsur ringan (Suryanta, 2019).
Mg Atom magnesium
pada garam, kandungan
ini dapat menjadi
penyebab kualitas garam rendah, kandungan Mg sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh pada konsentrasi tertentu,
namun dapat membahayakan jika dalam kadar yang berlebih. Salah satu efeknya adalah mengakibatkan hyper magnesia,
sebuah penelitian mengatakan Mg dapat diabsorpsi dengan menggunakan silica
gel, mampu mengadopsi ion seperti Na + Mg2+, Ca2+dan Fe3+(Indah, 2021).
Metodologi
Percobaan
3.1
Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat
- Botol semprot
- Batang pengaduk
- Cawan penguap
- Gelas beaker
- Gunting
- Hotplate
- Pipet tetes
- Rak tabung reaksi
- Spatula
- Tabung reaksi
3.1.2 Bahan-bahan
- Alumunium foil
- Aquades
- Indikator PP
- Kawat
- Kertas label
- Kertas saring
- Korek api
- Larutan BaCl₂ 0,1M
- Larutan CaCl₂ 0,1M
- Larutan H₂SO₄ 1M
- Larutan NaOH 1M
- Larutan Sr(NO₃)₂ 0,1M
- Logam Kalium
- Logam Magnesium
- Pita Mg
- Sabun cair
- Tisu
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Reaktifitas Unsur
3.2.1.1 Logam Kalium
- Disiapkan gelas beaker
- Dimasukkan secukupnya aquades kedalam gelas beaker
- Dimasukkan secukupnya logam kalium kedalam gelas beaker yang berisi aquades
- Dimasukkan larutan
kalium sebanyak 2 pipet kedalam
tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes indikator PP
- Dihomogenkan dan diamati
3.2.1.2 Serbuk Magnesium
- Dimasukkan aquades secukupnya yang telah dipanaskan
- Ditambahkan 2 spatula serbuk Magnesium kedalam gelas beaker
- Dimasukkan larutan magnesium sebanyak 2 pipet kedalam tabung reaksi
- Ditambahkan 5 tetes indikator PP
- Dihomogenkan dan diamati
3.2.2 Kelarutan Garam Hidroksida
- Disiapkan 3 tabung reaksi
- Dimasukkan larutan CaCl₂, BaCl₂, dan Sr(NO₃)₂ pada masing masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes
- Ditambahkan 10 tetes NaOH pada masing masing tabung reaksi
- Dihomogenkan dan diamati
3.2.3 Kelarutan Asam Sulfat
- Disiapkan 3 tabung
reaksi
- Dimasukkan larutan
CaCl₂, BaCl₂, dan Sr(NO₃)₂ pada masing masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes
- Ditambahkan 10 tetes H₂SO₄
pada masing masing
tabung reaksi
- Dihomogenkan dan diamati
4.
Hasil dan Pembahasan
4.1
Hasil Pengamatan
|
No. |
Perlakuan |
Hasil Pengamatan |
|
1. |
Reaktifitas Unsur Logam
Kalium - Dimasukkan aquades kedalam gelas beaker - Dimasukkan kalium
kedalam gelas beaker - Diambil 2 pipet larutan KOH - Ditambahkan 5 tetes indikator PP - Dihomogenkan - Diamati Logam Mg - Dimasukkan aquades
kedalam gelas beaker - Dimasukkan Mg kedalam gelas
beaker - Diambil 2 pipet larutan MgOH - Ditambahkan 5 tetes indikator PP - Dihomogenkan - Diamati |
- Larutan KOH berwarna
bening - Larutan indikator PP berwarna bening -
Diperoleh larutan berwarna merah lembayung - Larutan MgOH berwarna bening - Larutan indikator PP berwarna bening - Diperoleh larutan berwarna ungu muda |
|
2. |
Kelarutan Asam Sulfat - Disiapkan 3 tabung reaksi - Dimasukkan larutan CaCl₂ BaCl₂, dan Sr(NO₃)₂ pada masing masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes -Ditambahkan sebanyak 10 tetes H₂SO₄ pada masing masing tabung reaksi - Dihomogenkan - Diamati |
-
Larutan CaCl₂ berwarna bening Larutan BaCl₂ berwarna bening Larutan Sr(NO₃)₂ - Larutan H₂SO₄
berwarna bening - BaCl₂ + H2SO4 menghasilkan larutan
berwarna putih dan terbentuk endapan
berwarna putih CaCl₂ + H2SO4 menghasilkan larutan
berwarna bening |
|
|
|
Sr(NO₃)₂ + H2SO4 menghasilkan larutan
berwarna putih keruh |
|
3. |
Kelarutan Garam
Hidroksida - Disiapkan 3 tabung reaksi - Dimasukkan larutan
CaCl₂ BaCl₂, dan
Sr(NO₃)₂ pada masing masing tabung
reaksi sebanyak 10 tetes - Ditambahkan sebanyak 10 tetes NaOH pada masing
masing tabung reaksi - Dihomogenkan - Diamati |
- Larutan
CaCl₂ berwarna bening Larutan
BaCl₂ berwarna bening Larutan Sr(NO₃)₂ - Larutan NaOH berwarna bening CaCl₂+ NaOH menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan terdapat endapan yang lebih banyak daripada BaCl₂ Sr(NO₃)₂+ NaOH menghasilkan larutan berwarna putih keruh |
|
4. |
Uji Nyala Logam Kalium - Disiapkan gelas beaker dan dimasukkan aquades didalamnya - Dimasukkan logam
kalium kedalam gelas
beaker yang berisi aquades Pita Magnesium - Disiapkan kawat - Direkatkan pita
magnesium ke kawat - Dibakar |
|
4.2 Reaksi
4.2.1 Kereaktifitas Unsur
4.2.2 Kelarutan Garam Sulfat
Sr(NO3)2 + H2SO4
SrSO4 + 2 HNO3
BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2 HCl
CaCl2 + H2SO4 CaSO4 + 2 HCl
4.2.3 Kelarutan Garam Hidroksida
Sr(NO3)2 + 2 NaOH Sr(OH)2 + 2 NaNO3
BaCl2 + 2 NaOH Ba(OH)2 + 2 NaCl
CaCl2 + 2 NaOH Ca(OH)2 + 2 NaCl
4.3 Pembahasan
Kelarutan adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu untuk larut dalam suatu pelarut. Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan.
Larutan hasil dikata larutan jenuh, zat - zat tertentu bisa larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang bisa berupa zat murni atau campuran.zat yang larut bisa berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan bervariasi mulai dari selalu larut hingga sulit terlarut. Dalam beberapa kondisi,titik kesetimbangan larutan bisa dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang dikata lewat jenuh yang menstabil.
Jari-jari atom merupakan jarak dari inti
atom dengan elektron kulit luar untuk mengetahui sifat sifat jari-jari atom bisa diidentifikasi
berdasarkan golongan. Semakin kebawah jari-jari atom maka semakin besar ukurannya. Semakin
banyak kulit atom yang dimiliki
maka semakin jauh jaraknya dari inti atom. Jika diidentifikasikan berdasarkan periode maka jari jari atom semakin pendek dari kiri ke kanan,
apabila jumlah kulit
sama elektron terluar
tertarik lebih dekat ke arah kiri.
Energi ionisasi merupakan energi yang
dibutuhkan untuk melepaskan elektron pada kulit terluar. Untuk mengetahui sifat energi ionisasi bisa diidentifikasikan
berdasarkan golongannya, apabila energi ionisasi semakin
kebawah maka ukuan jari jari tersebut semakin
kecil, sedangkan apabila
diidentifikasikan berdasarkan periode
maka harga keelektronegatifannya semakin
besar dari kiri ke kanan.
Keelektronegatifan merupakan ukuran kemampuan suatu atom untuk menarik elektron dalam ikatannya. Untuk mengetahui sifat keelektronegatifan bisa diidentifikasikan berdasarkan golongan. Semakin kebawah maka semakin kecil harga keelektronegatifannya. Sedangkan apabila diidentifikasikan berdasarkan periode maka harga keelektronegatifannya semakin besar dari kiri ke kanan.
Afinitas elektron merupakan kemampuan atom untuk menerima elektron. Ini adalah perubahan energi yang terjadi ketika elektron ditambahkan ke gas atom. Atom yang berwujud gas penerima elektron akan melepaskan sebuah energi, itulah yang disebut dengan afinitas elektron. Atom dengan muatan inti efektif yang lebih kuat akan memiliki afinitas elektron yang lebih besar. Untuk mengetahui sifatnya bisa diidentifikasikan berdasarkan golongan. Semakin kebawah golongan maka semakin kecil harga afinitas elekron. Sedangkan berdasarkan periodenya harga afinitas elektron akan semakin besar dari kiri ke kanan. Percobaan kereaktivitasi unsur dilakukan untuk mengetahui dan membandingkan kereaktifan logam kalium dan magnesium. Reaksivitas unsur pada logam kalium pada mula-mula, disiapkan aquades. Kemudian dituangkan ke dalam gelas beker dan ditambahkan 1 pipet larutan kalium. Dihasilkan larutan menjadi larutan KOH. Dimasukkan larutan KOH ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan logam dengan menggunakan spatula. Dihasilkan ledakan kecil dengan nyala api merah keunguan. Diambil satu pipet larutan KOH dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 tetes indikator PP sebagai pendeteksi gugus OH−. Diperoleh hasil berupa larutan berwarna merah lembayung dengan sifat asam. Sedangkan reaktivitas unsur pada logam magnesium, mula-mula disiapkan aquades. Kemudian ditambahkan logam magnesium yang sudah berupa serbuk berwarna abu-abu yang tidak larut dalam air akan menghasilkan larutan Mg(OH)2. Diambil 1 pipet larutan Mg(OH)2 dan ditambahkan 5 tetes indikator pp sebagai pendeteksi gugus OH−. Diperoleh hasil berupa larutan berwarna ungu muda dengan sifat basa. Pada percobaan kelarutan garam sulfat yang bertujuan untuk mengetahui kelarutan CaCl2, BaCl2 dan Sr(NO3)2 dengan larutan H2SO4, mula-mula disiapkan 3 tabung reaksi yang berfungsi sebagai wadah untuk mencampur bahan. Dimasukkan larutan CaCl2, BaCl2 dan Sr(NO3)2 sebanyak 10 tetes ke dalam masing- masing tabung reaksi. Setelah itu, ditambahkan larutan H2SO4 berupa larutan bening pada masing-masing tabung reaksi sebanyak 10 tetes dan di homogenkan. Berdasarkan prinsip kelarutan penambahan larutan H2SO4 yang bersifat asam pada golongan IIA membuat larutannya semakin bertambah dari atas ke bawah. Hal ini menyebabkan larutan CaCl2, BaCl2 dan Sr(NO3)2 yang dicampurkan dengan larutan H2SO4 menghasilkan cairan putih keruh dengan lebih banyak endapan dibandingkan dengan larutan CaCl2 yang menghasilkan larutan bening tanpa endapan dikarenakan sifat kelarutannya lebih besar.
Pada percobaan garam hidroksida yang
bertujuan untuk mengetahui kelarutan CaCl2, BaCl2 dan Sr(NO3)2 dengan larutan
NaOH mula-mula disiapkan
3 tabung reaksi
yang berfungsi sebagai
wadah untuk mencampur bahan. Dimasukkan larutan CaCl2, BaCl2 ,
dan Sr(NO3)2 sebanyak
10 tetes ke dalam masing- masing
tabung reaksi. Setelah itu, ditambahkan larutan NaOH berupa larutan bening pada
masing-masing tabung reaksi sebanyak
10 tetes dan di homogenkan. Berdasarkan pada prinsip kelarutan penambahan larutan
NaOH yang bersifat
basa pada golongan
IIA membuat kelarutannya semakin bertambah dari bawah ke atas hal ini menyebabkan larutan CaCl2
yang dicampurkan dengan larutan NaOH menghasilkan larutan putih
keruh dengan lebih banyak endapan
dibandingkan dengan larutan
BaCl2 dan Sr(NO3)2 yang menghasilkan lebih sedikit endapan dikarenakan sifat kelarutannya lebih besar.
Perbedaan alkali dengan alkali
tanah adalah logam alkali tanah lebih besar dari alkali
karena memiliki dua elektron valensi
kerapatannya lebih tinggi dan titik lebur yang lebih tinggi logam alkali tanah berbilangan oksidasi +2 walaupun energi
ionisasi kedua untuk ion alkali tanah lebih tinggi dari yang pertama
kelarutannya dalam air lebih sukar khususnya yang memiliki anion berbilangan oksidasi -2.
Adapun pengaplikasian logam alkali dapat
kita lihat contohnya seperti litium sebagai bahan pelumas baterai dan industri kaca natrium pada
industri kertas garam dapur dan lainnya kalium sebagai industri pupuk dan juga industri deterjen
cesium sebagai pendeteksi radiasi. Begitu juga dengan logam alkali
tanah seperti berilium yang
dimanfaatkan sebagai aplikasi militer, magnesium sebagai produksi besi dan baja kalium sebagai produksi paduan banyak
logam stronsium sebagai pemberi warna pada kembang api serta radium
yang tidak begitu banyak diaplikasikan karena memiliki radioaktivitas yang tinggi.
Faktor kesalahan pada praktikum ini
yaitu ketika meneteskan larutan ke dalam tabung reaksi seperti adanya kelebihan tetesan yang akan
mempengaruhi hasil percobaan selain itu juga pada saat proses pembersihan alat sebelum digunakan ada
kemungkinan kurang bersih sehingga dapat mempengaruhi pada hasil
percobaan.
Penutup
5.1
Kesimpulan
- Berdasarkan percobaan
kelarutan asam sulfat dengan mencampurkan Sr(NO₃)₂ dengan H₂SO₄ didapatkan larutan berwarna putih keruh.
- Berdasarkan percobaan
kelarutan garam hidroksida dengan mencampurkan BaCl₂ dengan NaOH
didapatkan larutan berwarna putih keruh dan terbentuk sedikit endapan.
- Berdasarkan percobaan uji reaktifitas unsur
dengan mencampurkan MgOH dengan indikator
PP didapatkan larutan berwarna ungu muda.
5.2 Saran
Sebaiknya pada percobaan
selanjutnya digunakan unsur litium sebagai pengganti unsur kalium agar mendapatkan hasil yang lebih bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adha, S.D.
2015. Pengaruh Konsentrasi Larutan HNO3 dan Waktu Kontak Terhadap Desopsi kadmium II yang Terikat Pada Biomassa
Azolla Micropylla – Sitrat. Kimia Student Journal. Vol 1 (1):636-692.
Ahmad, Nurokhim. 2020. Sifat-Sifat Unsur. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro.
Bahrun. 2014. Kimia dasar I. Makassar: Universitas Hasanuddin "Jurnal Sifat-Sifat Unsur ".
Chang, R. 2003. Kimia Dasar Konsep Kimia Inti. Jakarta:
Erlangga.
David, Harvey. 2000. Modern Analytical Chemistry.Toronto: John
Wiley dan Sons.
Dwinata, Rian Agus.
2016. Rancang Bangun Aplikasi Tabel
periodik Unsur dan Perumusan Senyawa Kimia dari Unsur
Kimia Dasar Berbasis Android. Jurnal Informatika. Bengkulu. Vol 04
No. 2.
Fitri, Zarlaida. 2020. Kimia Unsur Golongan Utama. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.
Ika. 2011. Kimia Dasar
I. Makassar: Universitas Hassanudin "Jurnal Sifat-Sifat Unsur”.
Indah & Saraswati. 2021. Penyerapan Logam Magnesium Dengan Menggunakan Bubuk Alga Merah. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 15, No.2.
Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Kenkel, John.
2003. Analytical Chemistry for Tehnicians. Washington: Lewis Publishers.
Kuncoro, Diharjo.
2016. Pengaruh Perlakuan Alkali
terhadap Sifat Tarik
Bahan Komposit Serat Rami- Polyester. Jurnal Teknik Mesin. Vol 08 No.01: April 2006.
Lovise, Tuanta. 2014.
Unsur Alkali dan Alkali
Tanah. Jakarta: Gramedia.
Mr. Phobos, 2020. Kimia Dasar. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro "Jurnal Sifat-Sifat Unsur”.
Nadeak, V.I.Z, & Oediyanı, S. 2017. Karakterisasi Perlindian Produk Pemanggangan Alkali (Frib) Dalam Media Air dan Asam Sulfat. Jurnal furnace.
Ratnasari, Sinta. 2016. Studi Potensi Daun Adam Hawa (Rhoeo
discolor) Sebagai Indikator Titrasi Asam- Basa. Chimica
et Natura Acta. Vol 4 No. 1.
Regina Tutik Padmaningrum. 2006. Titrasi Asimedri. Jurnal Pendidikan. Hal 4.
Rizal, M. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung: Grafindo Mediapratama.
Saraha, Abdul
Rasid. 2017. Kimia Dasar
1. Bandung: CV. Rasi Terbit.
Sriatun, Suhartana, Taslimah. 2012. Buku Ajar Kimia Unsur. Semarang: CV. Lestari Mediakreatif.
Sukartono. 1983. Ilmu
Kimia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Sulastri.
2017. Buku Ajar Kimia Dasar 1.
Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.
Sumarno, S, Ratnawati, R, Nugroho, A.N.A.
2012. Recovery Garam Lithium dari Air Asin (Brine) dengan
Metode Presipitasi. Teknik,
33 (2):67-69.
Sunarya. Y. 2004.
Kimia Dasar I. Bandung: Yramawidya.
Sutresna,
Nana. 2007. Cerdas Belajar
Kimia. Bandung: Grafindo
Media Pratam
Suyanta, 2019. Buku Ajar Kimia Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Syukri. 1999. Kimia Dasar 3. Bandung: ITB.
Syamsidar. 2013. Dasar Reaksi Kimia Anorganik. Makassar: UIN Press.
Tifani,
Olivia. 2013. Golongan alkali dan
alkali tanah.
Yayan Sunarya & Agus Setiabudi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Bandung: Setia Purna Inves.
Yusuf, Yusnidar. 2018. Kimia Dasar Panduan untuk Belajar. Jakarta: Educenter Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar