BUKU PANDUAN GEOLOGI DASAR
“FORMAT DESKRIPSI BATUAN”
Disusun
Oleh :
TIM ASISTEN
KATA PENGANTAR
Buku Panduan
Kuliah Lapangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagai panduan bagi mahasiswa
yang mengikuti matakuliah GEOLOGI DASAR di Program Studi Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman. Walaupun demikian
buku ini bukan merupakan suatu buku mutlak, sehingga para mahasiswa tetap di
harapkan untuk juga membaca buku-buku literatur lain yang berkaitan dengan
kuliah lapangan.
Isi buku ini
sebagian besar diambil dari beberapa macam buku mengenai materi Geologi Dasar. Penulis menyadari bahwa
buku panduan ini masih jauh dari sempurna dan banyak terdapat kekurangan.
Dengan harapan adanya perbaikan dan penambahan yang akan dilakukan secara
berkala.
Semoga Buku
Panduan Geologi Dasar ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya. Terima Kasih.
Samarinda, ________________
TIM ASISTEN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.
Pemerian Batuan Sedimen
Penamaan dan Pemerian litologi berbeda-beda untuk
macam-macam litologi. Untuk ini macam-macam litologi. Untuk ini macam-macam
batuan yang umum adalah :
A.
Detritus
(Klastik) Kasar,
B.
Detritus
(Klastik) Halus,
C.
Karbonat,
D.
Evaporit.
Di dalam memeriksa batuan sedimen klastik, beberapa
hal yang harus diperhatikan, seperti :
1.1
Warna
Warna pada
hakikatnya sangat penting pada setiap batuan. Khususnya pada batuan sedimen
akan membantu di dalam beberapa hal seperti masalah lingkungan pengendapan.
Ex
: Warna merah, hijau lingkungan oksidasi. Warna abu-abu tua, hitam lingkungan reduksi.
1.2
Kekompakan
Kekompakan adalah
sifat fisik dari batuan, beberapa istilah yang biasa dipergunakan untuk
kekompakan batuan, yaitu :
Dense : Sangat padat.
Hard : Keras dan padat,
contoh kuarsit.
Medium Hard : Agak keras, tetapi masih dapat
digores oleh jarum baja.
Soft : Lunak, dengan
mudah bisa tergores dan dipecahkan.
Friable : Keras tetapi dapat
diremas dengan tangan.
Spongy : Berongga.
1.3
Kebundaran
(roundness)
Kebundaran dapat
dilihat dari bentuk batuan yang terdapat dalam batuan tersebut. Tentunya
terdapat banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk mudahnya
dipakai perbandingan sebagai berikut :
Wellrounded (sangat membundar) ;
Semua permukaan konveks, hampir
equidimensional, sferoidal.
Rounded (membundar) ;
Pada
umumnya permukaan-permukaan bundar, ujung-ujung dan tepi-tepi butiran bundar.
Subrounded
(membundar tanggung) ;
Permukaan pada umumnya datar dengan ujung yang bundar.
Subangular
(menyudut tanggung) ;
Permukaan pada umumnya datar dengan ujung-ujungnya
tajam.
Angular
(menyudut);
Permukaan konkaf dengan ujungnya yang tajam.
1.4
Butiran (grains)
Butiran
di dalam batuan sedimen klastik bisa terdiri dari pecahan-pecahan fragmen
batuan, mineral, kristal dan cangkang-cangkang fosil atau zat organik lainnya.
Butiran pada umumnya ditentukan oleh ukuran butir, klasifikasi yang biasa
dipergunakan adalah dari Wentworth (1922).
1.5
Porositas
Porositas
suatu batuan adalah perbandingan seluruh permukaan pori dengan volume dari
batuan. Bila dijadikan dalam presentase adalah sebagai berikut :
Pembagian
porositas biasa dipergunakan sebagai berikut :
Negligible 0 – 5 %
Poor 5 – 10 %
Fair 10 – 15 %
Good 15 – 20 %
Very Good 20 – 25 %
Excellent 25 – 40 %
1.6 Permeabilitas
1.7 Matrik
Semacam butir (klastik), tetapi sangat halus, sehingga aspek
geometri tak begitu penting, terdapat di antara butiran sebagai massa dasar.
1.8 Semen
Bukan butir, tapi material pengisi rongga antar butir, biasanya
dalam bentuk amorf (tidak berbentuk) atau kristalin. Bahan-bahan semen yang
lazim adalah :
-
Kalsit -
Pirit
-
Dolomit - Lempung
-
Sulfat -
Silt
-
Oksida Besi -
Siderit
-
Silika
1.9 Pemilahan (sorting)
Pemilahan yaitu keseragaman butir di dalam batuan sedimen
klastik. Beberapa istilah yang biasa dipergunakan dalam pemilahan batuan,
adalah :
-
Well sorted :
Terpilah baik
-
Medium sorted :
Terpilah sedang
-
Poor sorted :
Terpilah buruk
1.10 Kemas (fabric)
Di dalam batuan sedimen
klastik dikenal 2 (dua) macam kemas, yaitu :
-
Kemas terbuka : Butiran tidang saling bersentuhan
(mengambang di dalam matriks).
-
Kemas tertutup : Butiran saling bersentuhan satu sama
lainnya.
2. Struktur Batuan Sedimen
Struktur sedimen sebenarnya adalah
kelainan dari bidang perlapisan yang normal (paralel atau horizontal). Kelainan
disebabkan karena proses sedimentasi, ataupun sesudah sedimentasi (diagenesa).
Struktur sedimen terbentuk akibat dari
proses fisika, kimia maupun organik dan proses-proses lainnya.
Contohnya :
-
Proses fisika seperti angin, air dan arus
-
Proses kimia seperti kongkresi
-
Proses organik seperti jejak binatang.
Sifat yang khas yang mudah dan langsung
dapat diamati dengan mata telanjang adalah unsur perlapisan. Intensitas arus
mempengaruhi pengendapan dalam besar butir, startifikasi dapat juga menunjukkan
proses terbentuknya lapisan tersebut, karena lingkungan pengendapan.
3. FORMAT DESKRIPSI BATUAN SEDIMEN (Batupasir, Batulempung,
Batulanau)
A. Sketsa Morfologi :
B. Nama Batuan :
C. Warna Segar :
D. Warna Lapuk :
E. Warna Gores :
F. Kekompakkan :
G. Kebundaran :
H. Besar Butir :
I.
Porositas :
J.
Permeabilitas :
K. Pemilahan :
L. Kemas :
M. Struktur Sedimen :
N. Karbonatan :
O. Lingkungan Pengendapan :
P. Umur Batuan :
4. FORMAT DESKRIPSI BATUGAMPING
-
Batugamping merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang
paling banyak jumlahnya. Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping non
klastik dan batugamping klastik.
-
Batugamping Non Klastik merupakan koloni dari binatang laut
antara lain coelenterata, moluska, protozoa dan foraminifera/ batugamping ini
sering juga disebut batugamping koral karena penyusun utamanya koral.
-
Batugamping Kalstik merupakan hasil rombakan jenis batugamping
non klastik yang tererosi oleh air, tertransportasi, sortasi, dan terakhir
sedimentasi. Selama proses tersebut banyak mineral-mineral lain yang terikut
yang merupakan pengotor, sehingga sering kita jumpai adanya variasi warna dari
batugamping itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua,
coklat, merah, bahkan hitam.
-
Batugamping adalah batuan sedimen bertekstur kristalin,
maksudnya batuannya sudah sangat kompak dan telah terjadi rekristalisasi
(pengkristalan kembali) pada batugamping non klastik.
-
Batugamping pada umumnya bukan terbentuk dari batuan sedimen
seperti yang kita kira, tidak juga terbentuk dari Clay and Sand. Batugamping terbentuk dari
batu-batuan bahkan juga terbentuk dari kerangka kalsit yang berasal dari organisme
mikroskopik di Laut Dangkal.
-
Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara
organik, mekanik dan kimia sebagian besar di alam terjadi secara organik
berasal dari pengendapan cangkang, rumah kerang dan siput, foraminifera/
ganggang, koral/ kerang.
-
Batugamping yang terjadi secara mekanik, sebenarnya komposisi
nya tidak jauh berbeda dengan jenis batugamping yang terjadi secara organik,
bedanya adalah terjadi perombakan dari bahan batukapur tersebut yang kemudian
terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula.
-
Batugamping yang terjadi secara kimia adalah jenis batugamping
yang terjadi dalam kondisi iklim dan lingkungan tertentu dalam air laut ataupun
air tawar.
v Deskripsi Batugamping Non Klastik.
A. Sketsa Morfologi :
B. Nama Batuan :
C. Warna Segar :
D. Warna Lapuk :
E. Kekompakkan :
F. Karbonatan :
G. Lingkungan Pengendapan :
H. Umur Batuan :
v Deskripsi Batugamping Klastik.
A. Sketsa Morfologi :
B. Nama Batuan :
C. Warna Segar :
D. Warna Lapuk :
E. Warna Gores :
F. Kekompakkan :
G. Kebundaran :
H. Besar Butir :
I.
Porositas :
J.
Permeabilitas :
K. Pemilahan :
L. Kemas :
M. Struktur Sedimen :
N. Karbonatan :
O. Lingkungan Pengendapan :
P. Umur Batuan :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar